Anak Sapi dalam Donna-Donna

Mar 20, 2014

Setelah keluar kelas tadi, saya berniat ke kantin. Dalam perjalanan, saya dihentikan oleh teman saya, dia ingin mengobrol. Karena memang sudah lama tidak mengobrol, saya memutuskan untuk mampir dulu.
Dari obrolan tentang kuliah, entah bagaimana kami mulai membahas mahasiswa aktivis pergerakan. Teman saya berargumen kalau aksi mahasiswa sekarang seperti tidak terlihat, beda dengan jaman dahulu yang seperti pahlawan. Secara spesifik, dia menyinggung bagaimana sebagian oknum mahasiswa bisa disetir oleh oposisi politik partai yang berkuasa. Saya tidak banyak menanggapi, saya malah teringat film tentang mahasiswa aktivis yang pernah saya tonton: Gie.
 
Dalam film yang berdasarkan pada buku catatannya, Gie digambarkan sebagai mahasiswa idealis yang benar-benar berpikir dan bertindak berbeda, cenderung berontak. Hal tersebut tercermin dalam kalimat favoritnya yang melegenda: lebih baik dikucilkan daripada hidup dalam kemunafikan. Selain itu, Gie memiliki satu lagu favorit, yang isinya mungkin sangat mencerminkan pribadinya. Lagu tersebut berjudul Donna Donna (yang kalau tidak salah) karya Joan Baez.

Saya mengunduh lagu ini beberapa waktu yang lalu dan mencari liriknya:

On a wagon bound the market
Theres a calf with a mournful eye
High above him theres a swallow
Winging swiftly through the sky
How the winds are laughing
They laugh with all they might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summers night
(Chorus)
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Stop complaining! Said the farmer
Who told you a calf to be?
Why dont you have wings to fly with?
Like the swallow so proud and free?
Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom
Like the swallow has learned to fly

Kita mungkin memandang lirik ini seperti bercerita, atau yang lebih "pandai" mungkin menganggapnya sebagai retorika motivasi. Di situ memang digambarkan bagaimana anak sapi yang terikat pada gerobak yang membawanya ke pasar, untuk kemudian disembelih. Anak sapi tentu saja sedih, namun dia dalam keadaan terikat. Sementara dia melihat jauh tinggi diatasnya ada seekor burung layang layang, mengepakkan sayap dengan cepat melintasi angkasa. Anak sapi yang melambangkan jiwa yang tidak merdeka, bermain aman dengan tubuh yang seperti robot karena tersetir oleh opini mainstream.

Namun ketika saya mencari informasi sejarah penulisan lagu Donna Donna sendiri, kesannya menjadi berbeda. Lagu ini menggambarkan teriakan anak sapi yang terkekang di atas kereta yang akan di bawa ketempat pembantaian. Anak sapi ini adalah sang penulisnya yang hidup pada masa kejayaan Nazi di Jerman. Dona-dona sama dengan Dana Dana, dikenal juga sebagai Dos Kelbl, yaitu The Calf atau Anak Sapi.

Latar belakang penulisan lirik asli lagu ini tidak luput dari pengalaman penulisnya yang merupakan anak seorang Yahudi keturunan Khazar dari negara Khazaria, terletak diantara Laut Hitam dan Laut Kaspia yang sekarang dimiliki oleh negara Georgia. Pada waktu itu ia menggambarkan kejadian ayah kandungnya yang diseret oleh tentara Nazi untuk dibawa ke kamp konsentrasi Yahudi. Ia tidak bisa berbuat banyak, kecuali bersembunyi dibalik dinding-dinding. (informasi dari internet)

Dari situ saya mengerti, menjadi burung layang-layang adalah sesuatu yang utopis bagi orang-orang seperti Joan Baez. Pertanyaan "siapa suruh jadi anak sapi?" adalah seperti bertanya kepadanya, "siapa suruh menjadi Yahudi". Anak-anak sapi mudah dibunuh, tanpa tahu alasannya. Tapi siapapun yang mencari kebebasan, seperti burung layang layang, harus belajar terbang--pesan yang mungkin ditangkap dengan baik oleh Gie.

Lagu ini tentang ketidakberdayaan, dan bagaimana kita mengubahnya. Tentang kebebasan, tentang bagaimana kita menentukan pilihan. Sialnya menjadi orang seperti Gie adalah: kalau tidak dikelilingi oleh orang yang tidak peduli, dikelilingi oleh orang-orang yang idealismenya bisa dibeli. Setiap orang yang pernah nonton Gie pasti paham, bagaimana sikap Gie ketika teman-teman yang dulu satu barisan dalam aksi demomonstrasi, menjadi orang-orang bawahan pemerintah dan bisa naik mobil.

Gie adalah mahasiswa Sastra, pecinta alam dan suka diskusi tentang film--dua hobi yang dalam film tersebut diremehkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang banyak cakap dan memilih mendekati politik praktis. Entah bagaimana, Gie mencoba untuk tetap netral, bahkan ketika teman dekatnya memilih bergabung dengan organisasi ekternal berbasis agama tertentu. Betapa angin angin itu tertawa, mereka tertawa sekuat mereka. Tertawa dan tertawa sepanjang hari, serta separuh malam musim panas.

Dua hal yang juga melekat pada diri Gie adalah: menulis dan membaca--dua hal yang dicontohkannya untuk generasi aktivis sekarang. Saya setuju ketika teman saya berkata: demo menjadi tidak efektif lagi di jaman sekarang, aktivis sekarang harus banyak diskusi dan menulis. Beda jaman, beda BEM, ungkapnya. Tulisan-tulisan itu nantinya bisa membuka mata masyarakat. Melepaskan ikatan pada sapi-sapi itu tadi dan menjadikannya burung layang-layang yang bebas, melakukan yang terbaik dalam negeri yang sistemnya penuh kelemahan ini.

Fenomena demonstrasi #saveEgypt, atau yang lebih baru, tolak Miss World yang gagal, menjadi bukti bahwa pemerintah sudah jarang mendengarkan suara rakyat. Maka dari itu teman saya tadi (yang bukan anak BEM), bisa bilang kalau aksi mahasiswa sekarang seperti tidak terlihat. Lagu Donna Donna menggambarkan hal yang begitu timpang. Joan Baez memposisikan generasinya sebagai sapi yang terikat, dan Gie berusaha membentuk kelompok burung layang-layang.

Sekarang, posisi mana yang kita ambil?

1 comment:

  1. maaf, tapi Joan Baez menyanyikan ulang lagu ini, bukan penulis aslinya, apalagi yang merasakan kejayaan Nazi. Joan Baez bahkan bukan keturunan yahudi.

    ReplyDelete