Showing posts with label Short Stories. Show all posts
Showing posts with label Short Stories. Show all posts

Mengingatmu, Hal yang Mainstream Bagiku

Dec 28, 2012

Ada beberapa hal dalam hidup ini yang tidak bisa secara sederhana kita lupakan begitu saja. Misalnya cara kita memasak nasi goreng, cara kita naik motor, cara kita saling memikirkan satu sama lain, cara otak kita merespon orang-orang menyebalkan di sekitar kita, sampai ke hal mendasar seperti image cowok IT yang sudah lama tertanam. Paling nggak butuh waktu, entah lama atau sebentar untuk melupakannya.

Orang bilang kita akan lebih bisa mengingat sebuah kejadian ketika kita sedang dalam situasi yang sama dengan yang sebelumnya kita alami. Misalnya, orang yang sudah lama menikah dan lupa bagaimana suasana pesta pernikahannya dulu, mungkin bisa berpose sama seperti posenya saat difoto di tempat resepsi. Itu adalah cara yang disengaja. Kadangkala kita secara tidak sengaja mengingat sesuatu karena cara itu. Akan pahit bila ingatan yang keluar dibarengi rasa sakit hati. Dalam kasusku: Mengingat hampir detail saat kita makan siang di tempat makan belakang kampus, hanya karena minum es teh.

Romantisme Romeo Juliet Ala Aktivis

Mar 25, 2012

oleh Cahyo Adi Nugroho

Renno Wibisono, seorang mahasiswa sastra semester 4 di sebuah kampus terkenal di Ibukota, baru beberapa detik yang lalu tiba di parkiran kampusnya. Pikirannya masih kacau, bergadang sampai jam setengah empat pagi hampir membuat kepalanya meledak. Karena alasan itu pula dia telat bangun. Beruntunglah Wibi punya kecepatan mandi di atas rata-rata, hingga entah bagaimana secara brutal dia berhasil sampai di kampus sepagi ini.

Bagaimana Aku dan Mini Melawan Dunia

Dec 2, 2011

September ke 22 di tahun ini,

Masih seperti malam-malam kemarin, aku galau di tempat tidur karena tidak ada PR yang berarti. Satu-satunya yang membuat kuliahku lebih menyenangkan selama ini adalah menjadikan diriku sendiri mahasiswa yang selalu datang terlambat, maju serampangan saat presentasi, dan yang paling seru, aktif dalam organisasi kampus.

Sepasang Sayap yang Terbuat dari Kaca

Nov 13, 2011

Aku memang hanya manusia, sebesar apapun keinginanku untuk bisa terbang.

Ketika dihadapkan pada pilihan apakah aku tetap mencoba untuk terbang atau mengikuti arus, teori fisika dan realita menekanku untuk tetap pada arus yang benar, kadang ada sedikit keinginan untuk mencoba, tapi cukup kuat untuk membuatku melakukan hal gila. Aku lalu membuat sepasang sayap yang terbuat dari kaca.

Aku berhasil, dan memulai penerbangan pertamaku, di suatu pagi yang dingin, cukup dingin untuk menulis sebuah cerita. Aku mencoba terbang lurus ke kampus, untuk mengetahui seberapa dekat kampusku jika aku menarik garis lurus dari rumah. Aku melewati sawah yang mulai menguning dan petani yang terlihat bahagia bisa hidup jauh dari kesombongan kota. Aku melewati jalan raya, bis-bis menyebalkan yang membuat perjalanku ke kampus jadi semi-action itu terlihat begitu kecil dan rapuh. Aku akhirnya sampai di kampus.


Manusia memiliki sifat manusiawinya yang membuat seorang manusia itu manusia. Sebenarnya saat aku memulai terbang dari rumah tadi, pada hakekatnya aku sudah jatuh. Ketika melewati parkiran kampus, terbesit keinginan untuk terbang lebih jauh lagi, dan akupun melakukannya. Aku terus terbang melewati perbatasan kotaku. Lalu terus lebih terbang jauh lagi, dan aku berhasil mengelilingi Indonesia.

Aku ingin terbang lebih jauh, aku ingin ke Eropa. Dengan kecepatanku waktu itu, akan butuh 9 jam untuk sampai ke Eropa. Tapi itu tidak masalah, aku korbankan lagi satu jam untuk bisa sekalian mengelilingi Asia. Aku memutuskan untuk tidak terbang terlalu tinggi, aku takut melewatkan setiap detail hamparan Asia. Aku menyaksikan bagaimana Tembok China, yang bahkan bisa dilihat dari bulan, terlihat begitu jelas dari jarak sedekat ini. Aku juga melihat hamparan putih Siberia yang luas, yang langsung menyambung ke Rusia. Ketika melihat kutub utara, aku berbelok ke barat, menelusuri Rusia dan akhirnya menuju Eropa.

(bersambung), pic source: here

Interlude - Path To The Art of Breakup

May 6, 2011

I don’t know what is better, either hide my best feeling or reveal it on The Art of Break Up, both of them is like a path to the hell! But let me tell u, I love writing, whatever, whenever. I know that it is too hard to control my mind when I start to write, I hate to realize that I still use too much personal feeling on writing. I still don’t have any intention to share my writings related to The Art of Break Up “yet”, I prefer to keep it in my laptop. I think it is better to read it alone instead of tell to my friends just to get their amused of my nice (overdo) language style, hahaha.

The Art of Break up II – On a Day Just like This

Seperti biasa pagi ini setelah nyapu lantai aku sarapan di kamar sambil dengerin lagu-lagu Pee Wee Gaskins yang album The Sophomore (rencananya ntar malem mau pergi hotspotan sama Arip dan download yang Ad Astra Per Aspera), lewat speaker dewa yang volumenya aku setel kenceng banget. Karena semua orang di rumah udah pergi kerja, aku teriak-teriak aja di kamar, tapi kemudian aku diem pas lagu On a Day Just Like This di putar,

“I remember how the first time
 I lay my eyes on you
 It was on the day just like this
 You was wearing your black dress…. dst”

The Art of Break Up

Sebelum kita baca tulisan ini, sebaiknya puter dulu lagunya Ipang – Tentang Cinta, biasanya lagu itu bekerja dan bikin aku nangis pas lagi berantem sama Agus di sms..

Oke, baru aja tadi siang aku diputusin Agus, haha sial, padahal tinggal sedikit lagi lho aku bisa nyelesaiin masalah…

Wah aku bener-bener mau ngucapin makasih ma Agus, buat semuanya selama ini :D…

Aku sudah banyak berubah sejak pertama kali kita bertemu, dulu aku kan pendiem banget kayak zombie

Dia udah bikin aku jadi lebih pede dan dewasa

The Black Parade

Feb 3, 2011

Suatu hari aku mendapat tugas mengarang cerita narative dalam bahasa inggris. Berhubung aku suka dengan grup musik luar negeri MCR, aku membuat cerita menyadur dari lagu mereka. Ini adalah cerita dalam bahasa inggris karanganku yang terbaik. Dan ini sengaja aku share.

The Black Parade

There was something mysterious about Helena that fascinated me. She was very good in all her studies and excellent in chemical . Weird,, no one knew anything about her. No one knew she lived, or who her parents were, or even what she did after school. When I asked something seriously she always said something funny and changed the subject. However I had love her and she had become my best girl friends.


One day in the summer, when I met her after school, he walked very fast and I hurried after her. He was silent as we waited at the bus stop. I touched her arm to tell her if in the city center would be present marching band. I asked her to saw that with me. She nodded her head to indicate an agreement. I was very happy because it would be a sweet dating.

Today, after school I ran very fast. I would go to my familiar place. In five minutes, I arrived in Mr. Iero’s flower shop. I bought a big bunch of roses for Helena. I knew, Helena very liked rose and I believed I had right. I must run faster to arrived the city center on time. The place that she was silent as she waited at the city center.

I touched her arm and she turned her head back. Helena looked happy with my coming. With a big smile I gave the flower to Helena. She smiled, she looked very beautiful today. Not along time, we heard a trumpet sound. Ya, the parade would be present. I knew, this is the first time she saw a parade. But, this sounds, this voices, this situations was not strange for me, when I was a young boy, my father took me in to the city, to saw a marching band. However I was very happy today.

The next day sun shined brightly, sky looked blue. There was nothing a clump of cloud. The birds chirped receive         the morning. The wind blew softly. Today I visited Helena’s house. The place that I very liked to come. I knocked on the door. But, no one answered. I tried to open the door, I shocked because the door unlocked. I called Helena but it still silent. I shocked when I read a message in my hand phone that indicated if Helena was cure in hospital. Immediately I went to hospital, I ran to Helena’s room but I was late. I was so late because I saw doctor closed her body with white cloth. I saw Helena’s parent cry, they said that Helena contract a cancer. They gave me a letter from Helena and wished I well. I wanted to cry when I read the letter. In the letter, Helena wrote “That if you say, goodbye today, I’d ask you to be true, cause the hardest past of this is leaving you”. And now I knew, what’s the reason Helena never told me about her disease. And I knew too, the parade that we saw together yesterday was the last parade for us. And the parade would be a black parade in my life. So long and good night to Helena.

maaf bila ada grammar yang tidak benar,

sumber : parkirankampus.blogspot.com