Tentang Keimanan

Mar 14, 2015

Dulu aku pernah juga kepikiran kalau kita menjadi muslim "hanya" karena orang tua kita muslim, kemudian menanyakannya ke seorang ustaz. Beliau menjawab: "Itu pertanyaan yg tidak penting."

Aku kemudian sadar, bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang bukan fokus/prioritas kita dalam beragama, masih banyak (sekali) hal yang harus kita lakukan. Dalam banyak sekali kasus, Tuhan mengawali perintahnya dengan kalimat "Hai orang-orang yg beriman..". Maka benarlah kalau dalam banyak kasus pula, kita memang hanya perlu "percaya". Sesederhana itu.

Namun ternyata iman itu tidak gratis, aku kurang setuju dengan kalimat "Tuhan memberikannya cuma-cuma". Karena nyatanya ada hal besar yg perlu dikorbankan: kemerdekaan berpikir (dalam skala yang sangat-sangat bebas). Para ateis tidak mau menggadaikan kemerdekaan berpikir mereka, itulah mengapa mereka kekeuh dengan pendapat "semua harus logis dan rasional, semua harus bisa dilihat/didengar/disentuh".

Padahal, fitrah manusia itu nisbi. Manusia adalah tentang kebenaran yang relatif. Tidak ada yang mutlak benar, atau mutlak salah. Karenanya, argumen “kebenaran itu relatif” itu tepat bila masih dalam konteks manusia. Bila telah masuk ranah agama, maka argumen itu sudah tidak bisa lagi dikenakan. Argumen itu berubah menjadi: kebenaran itu relatif, kecuali satu. Itulah kalimat yang setiap hari kita rapal dalam duduk tasyahud (seakar dengan kata asyhadu: persaksian): tidak ada kebenaran selain Kebenaran.

Dan tugas kita adalah untuk terus mendekat ke Kebenaran itu. Tuhan sebenarnya lebih dekat dengan kita daripada urat leher kita sendiri, tapi tubuh ini terlalu bodoh dan malas untuk menyadari-Nya.


Sementara, Sudjiwo Tejo mengatakan, "tangga menuju langit adalah kepalamu, maka letakkan kakimu diatas kepalamu. Untuk mencapai Tuhan, injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu"

1 comment: