Tentang Ilmu yang Multidisiplin

Mar 12, 2015

Hari-hari ini aku mencari-cari lagi pentingnya American Studies, pentingnya kuliah yang kulakukan. Jangan sampai semakin ke sini aku lupa alasanku masuk Amstud.

Hal yang paling menakjubkan dari American Studies adalah bagaimana ia menghargai pemikiran yang beragam. Dalam menghadapi satu isu tertentu, ia membiarkan penelitinya memakai banyak pendekatan. Itulah yang disebut multidisciplinary studies--ilmu yang multidisiplin.

Tapi kemudian aku berpikir, bukankah "keluasan ilmu" itu juga yang menjadi kelemahan terbesarnya? Ironis. Kita tahu terlalu banyak, tapi mendalami terlalu sedikit. We know too much, but understand too less. Mahasiswa kajian Amerika memang membaca banyak jurnal yang tidak hanya fokus pada satu hal. Tapi aku sangsi tiap mahasiswanya bisa berbicara atau menulis secara dalam tentang satu topik, bahkan untuk topik yang paling disenanginya.

Tapi kemudian aku merenungi juga kata "fokus". Apakah kita tega membiarkan otak kita yang canggih ini hanya dipakai untuk mempelajari satu hal? Aku membayangkan mahasiswa Amstud bisa menjadi semacam polymath, ilmuan "mutidisipliner" jaman dulu--yang ekspert dalam banyak hal tapi tetap "fokus" pada satu yang dicintainya.

Temanku dulu pernah menjelaskan konsep "multidisiplin" dari ilmuan jaman dulu itu, mereka mempelajari banyak hal juga "pilih-pilih". Yang berbeda dari mereka adalah target besar dalam hidup yang ingin dicapai. Mereka ingin menciptakan apa untuk kemanusiaan, dan ilmu apa saja yang diperlukan untuk mencapai kesempurnaan penciptaan itu.

Jadi misal dia ingin menjadi kapten kapal yang luar biasa; maka dia akan bersungguh-sungguh mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, misal ilmu air, kelautan, navigasi, angin, dan bahkan astronomi. Atau bila dia ingin menciptakan lampu seperti Alfa Edison, maka dia akan mempelajari lebih banyak hal lagi: fisika, kimia, listrik, hukum energi, dan sebagainya.

Banyak hal itu dipelajarinya tapi semua itu untuk mendukung kecintaannya pada satu pencapaian tertentu. Sesuatu yang banyak itu untuk satu kesempurnaan.

Tidak seperti sistem pendidikan sekarang yang fokus pada "astronominya" tapi tidak ada motivasi untuk menjadi "kapten kapal yang luar biasa". Kita kadang malah tidak tahu sebenarnya apa guna dari yang kita pelajari selama bertahun-tahun.

Kita sendiri seperti terpisah dari peran kita dalam membuat kemajuan jaman. Seperti seorang buruh pabrik mobil yang sangat pandai dalam membuat ban tapi tidak tahu bahwa dia sedang menjadi bagian dalam pembuatan mobil. Makanya banyak orang yang merasa pandai tapi tidak sadar bahwa dia sedang dimanfaatkan oleh kekuatan di atasnya.
Teralieniasi, kita terasing dari apa yang kita lakukan sehari-hari, seperti kata Karl Marx.

0 comments:

Post a Comment