Hujan dan Tarawih

Aug 2, 2013

Beberapa waktu yang lalu, kepercayaan saya terhadap kemanusiaan berkurang (lagi).

Menjelang Isya, gerimis tiba-tiba turun, tidak deras, tetapi konstan.

Saya bersiap untuk berangkat ke masjid, kali ini agak terburu-buru. Saya harus cepat. Karena sedang hujan, akan sangat berbahaya bila saya terlambat dan harus sholat di pelataran Masjid Azzumar. Walaupun sudah dipasang kajang, namun air hujan bisa saja bertingkah seperti perangai saya: berontak.


Dan memang, seperti yang sudah-sudah, hujan memang membasahi tempat sholat di pelataran. Posisi kajang yang tidak sepenuhnya bersinggungan dengan bagian belakang masjid, memungkinkan air untuk menyeruak melewatinya. Sementara itu di bagian belakang, lebih parah. Ruang terbuka menyebabkan sesuatu yang orang jawa sebut dengan ketampon, air hujan masuk bagian dalam kajang karena terbawa angin. Daerah pelataran yang landai juga menyebabkan air menyerang lewat bawah. Lengkap sudah skema pembasahan tempat sholat.

Air hanya bergerak sesuai hukum yang Dia gariskan atasnya. Ketidak-sempurnaan alat yang manusia ciptakan untuk mengatasinya-lah yang menimbulkan kesan pemberontakan.
Maka jelas, saya tidak boleh terlambat agar mendapat tempat di dalam masjid. Kondisi memprihatinkan yang saya paparkan dalam catatan ramadhan #1 akan semakin parah bila ditambah dengan kondisi yang basah.

Waktu itu saya tidak datang cukup awal, maka dari itu, perasaan was-was muncul dalam perjalanan. Saya agak mengebut, sebagai wujud ikhtiar. Saya berhasil, saya sampai di masjid dan masih mendapatkan tempat di shaf agak depan.

Saya berhasil, dan entah bagaimana saya agak kecewa.

Sulit memutuskan siapa yang lebih membuat saya kecewa, diri saya sendiri atau orang lain… yang tidak berangkat ke masjid waktu itu.

Saya datang tidak terlalu awal, namun masih mendapat tempat di bagian depan… karena memang yang datang tidak terlalu banyak!

Kenapa saya ngebut dan kenapa saya khawatir tidak mendapat tempat shalat adalah pertanyaan dengan jawaban sederhana: karena saya percaya dengan apa yang saya pikirkan. Saya baru sadar kalau ternyata saya men-generalisasikan semua orang. Saya pikir, karena sedang gerimis, orang-orang akan berbondong-bondong datang lebih dulu ke masjid. Setiap orang tidak mau kebasahan di luar, maka dari itu mereka akan berusaha mengamankan tempat di dalam masjid.

Serius, saya tidak kepikiran.

Saya benar-benar baru sadar ketika sampai di masjid waktu itu, bahwa ada juga yang berpikir kalau lagi gerimis ya ndak usah ke mesjid!


“Nggak boleh kecewa karena manusia, Cah!”

0 comments:

Post a Comment