Merindukan Kemampuan Berjalan

Oct 14, 2015

: Nenek

Malam ini Nenek menginap di rumah. Saat aku mulai menulis catatan ini, Nenek sedang makan malam bersama Ibu. Magrib tadi, waktu aku berniat mengambil makan, Nenek kutanya: Nenek sudah makan? Beliau menjawab: Nenek kalau makan habis Isya kok. Padahal malam ini Ibu habis Isya langsung diteruskan pengajian sampai sekitar jam setengah sembilan.

Alhasil, saat aku mulai menulis catatan ini, Nenek sedang makan malam bersama Ibu.

Masih cerita saat Magrib. Setelah Magrib, seperti biasa Ibu membaca Al Qur’an. Waktu itu aku sudah hampir selesai makan, dan Ibu menyusul kami duduk di ruang tamu. Ibu mulai membaca beberapa ayat, dan Nenek kemudian mendekati Ibu sambil berkata padaku: Biar Nenek dengarkan.

Karena sudah tua, penglihatan Nenek pasti berkurang. Nenek kemungkinan besar sudah tidak sanggup lagi rutin mengaji. Karenanya Nenek kemudian “cukup senang” dengan hanya mendengarkan. Sekadar mendengarkan orang yang membaca Al Qur’an (seharusnya) adalah hal yang luar biasa. Rasulullah SAW sendiri sangat gemar mendengarkan bacaan Al-Quran dari orang lain—padahal Al-Quran itu sendiri diturunkan Tuhan kepada beliau.

Mendengarkan orang mengaji adalah hal yang luar biasa: Karena selain kemampuan penglihatannya yang berkurang, Nenek juga sudah mengalami gangguan pendengaran.

Karena menyadari hal itu, aku cukup terhentak ketika Nenek bilang “Biar Nenek dengarkan”. Telinga muda ini masih sangat jelas mendengarkan suara orang mengaji, tapi otak ini masih terlalu bodoh untuk menyadari bahwa yang sedang telinga dengarkan adalah pembacaan kalimat-kalimat Tuhan. Ayat-ayat Al Qur’an yang terdengar dari Ibu yang mengaji atau suara dari speaker masjid kerap diacuhkan begitu saja: Seperti tidak ada yang spesial.

Mereka bilang: kita baru menyadari bahwa sesuatu itu berharga setelah kita merasa kehilangan. Mungkin Nenek merindukan kemampuan mendengarnya waktu beliau masih muda—mungkin kita juga akan begitu.

Mungkin kita juga akan merindukan kemampuan berjalan.

Menjelang Magrib tadi aku mendapati Nenek mengobrol dengan Ibu. Aku sedang menjerang air karena persediaan air di kulkas menipis. Ketika Ibu mendengar suara kompor dinyalakan, beliau mengangkat isu baru dalam obrolan: Kalau gas habis secara tiba-tiba di pagi hari, urusan menjadi ribet. Karena kecuali hari libur, Ibu memang selalu berada di suasana hectic di pagi hari.

Nenek lalu berkata: “Kalau gas di rumah habis, aku masih bisa mengangkat tabung gas yang kosong itu ke tempat Erna. Tapi aku tidak kuat kalau tabungnya berisi gas, jadi aku tinggal saja di sana nanti tahu-tahu Erna datang mengantar ke rumah.”

Lucu. Aku tersenyum. Beliau berdua kemudian sempat menyinggung Kakek.

“Kalau Kakek memang sudah tidak kuat membawa tabung gas”, Nenek melanjutkan. Ibu lalu menanggapi, “Sekarang sudah tidak kuat, ya? Padahal Kakek dulu ngangkat apa saja kuat”

Adzan Magrib sudah dari tadi berkumandang, aku memeriksa air yang belum juga mendidih, kemudian berteriak ke Ibu: “Buk, ini aku menjerang air!” Ibu tahu maksudku, kemudian mengiyakan. Aku kemudian beranjak ke garasi, dan mendapati sepeda motorku dibawa Bapak: Aku memutuskan berjalan kaki saja.

Dalam perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh itu, aku teringat obrolan Nenek tentang Kakek. Aku bergumam dalam hati: Mungkin memang begitu, akan ada saatnya aku merindukan kemampuan berjalan ini.

Akan ada saatnya. Dan semoga sampai saat itu tiba, Tuhan selalu mendekatkan rasa syukur pada perasaan kita. []

8 Juni 2014

0 comments:

Post a Comment