Orang-orang Alhamdulillah

Aug 3, 2013

Kalau kita termasuk orang-orang Alhamdulillah, kita tidak akan menyia-nyiakan waktu dan tenaga kita untuk mengeluh (komplain).

Dalam hidup ini, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Sebagai makhluk sosial, kita akan selalu berinteraksi dengan orang lain, secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam interaksi tersebut, berlaku hukum roda: kadang kita berada di posisi atas, kadang di bawah. Dengan kata lain, kadang kita membutuhkan bantuan orang lain, dan kadang kita memiliki kesempatan untuk membantu orang lain.

Jenis dan besarnya bantuan itu bervariasi, ada yang besar dan kecil. Pun demikian, idealnya kita selalu menyempatkan diri untuk bilang “terima kasih”, tanpa memandang besar-kecilnya bantuan yang kita terima.


Suatu hari, ada seseorang yang membagikan formulir pendaftaran sebuah program. Karena ada banyak orang yang butuh formulir tersebut, kita antri. Pembagian kertas formulir itu mirip seperti pembagian kertas ujian, jadi jarang yang bilang terima kasih.

Orang-orang menerima kertas formulir tersebut, lalu langsung pergi. Ya mungkin karena mereka memandangnya memang sudah menjadi hak mereka, dengan mengabaikan perantaranya.

Seperti ketika Allah SWT sudah menjatah suatu rejeki kepada kita, pasti akan sampai. Namun poinnya adalah, apakah Allah SWT memberikannya langsung kepada kita, turun dari langit? Rupanya selalu ada perantara. Nah selain berucap hamdalah atas rejeki yang kita terima, bukankah kita juga harus berterima kasih kepada tangan yang menyampaikan rejeki itu?

Think about it.

Ketika sampai pada giliran saya untuk menerima formulir, saya “mencoba” untuk bilang terima kasih. Rupanya, orang yang membagikan formulir itu bilang “sama-sama” dengan nada yang mengesankan. Entah bagaimana saya merasa senang.

Mengucapkan terima kasih ternyata memang tidak sesulit itu.

Semakin kesini manusia cenderung lebih suka untuk memilih daripada berterima kasih. Contoh sederhananya adalah saat kita mengopi film dari teman kita, kita lebih dulu bilang, “Kok subtitle-nya bahasa Inggris?” namun lupa mengucapkan terima kasih. Orang yang memberikan film tersebut mungkin mendownloadnya saja lama dan ribet, apa susahnya bilang terima kasih dulu?

Kalau untuk hal yang “terlihat” begitu saja sudah susah bersyukur, bagaimana kita akan mensyukuri nikmat yang tidak kasat mata seperti, kesehatan, kesempatan, atau bahkan iman?


“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad)

3 comments:

  1. Bener, Allah swt punya berbagai cara untuk ngabulin permintaan kita. Tinggal gimana caranya kita mensyukuri apa yang udah diberikan-Nya, itu pasti yg terbaik. :)

    ReplyDelete
  2. bersyukurlah dengan apa yang kita punya saat ini

    ReplyDelete
  3. Sip. Manusia sekarang lebih mengedepankan nuntut hak ketimbang ngejalanin kewajiban. Dan ngucapin terimakasih ini harusnya masuk Kewajiban Asasi Manusia.
    Ngucapin terimakasih dalam ranah hablu minna naas dan pastinya hablu minnallah. Tsah~

    ReplyDelete