Showing posts with label Catatan Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Ramadhan. Show all posts

Rumah Sakit

Jun 7, 2014

Prolog: Tulisan ini ada di majalah Aitam edisi khusus Ramadhan.
------------------------

Beberapa hari yang lalu aku pergi ke sebuah rumah sakit. Temanku mengalami musibah yang menyebabkan tangannya harus dioperasi. Memang seperti ada yang spesial dari rumah sakit ini; temanku di karangtaruna pernah magang di sini, salah satu sepupuku ada yang bekerja sebagai perawatnya, salah satu guru menulisku juga koas di sini, dan yang terakhir, temanku bilang kalau adiknya juga sempat dirawat di sini.

Aku ingat ketika beberapa minggu sebelumnya aku menginap di rumah sakit ini. Waktu itu malam sudah agak larut ketika aku duduk di ruang tunggu dekat lobi lantai tiga. Aku mengetik. Kalau aku tidak mengantuk, rasanya aku bisa menulis semalaman di tempat itu. Pada jam yang sama, lobi rumah sakit sepertinya lebih sunyi dibanding kamarku—Bapak biasa menonton TV sampai larut. Suasananya begitu tenang.  Beberapa orang masih berlalu lalang, beberapa lagi duduk di sekitarku, ada yang tidur di kursi dan mendengkur keras sekali.

“Kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat yang biasa diremehkan manusia”, sabda Muhammad SAW. Konon ada sebuah hukum unik yang berlaku untuk banyak orang: manusia menghabiskan waktunya di masa muda untuk mencari uang, dan menghabiskan uangnya di masa tua untuk mencari kesehatan. Rumah sakit itu telah membuktikan padaku, bahwa memang sebagian besar orang yang kutemui adalah orang tua. Entah mereka sakit karena gaya hidup atau “terlalu lelah mencari uang” di masa muda, yang jelas mereka datang dengan tujuan yang sama: mencari kesehatan.

Ramadhan dan Romantika Takjil

Mar 10, 2014

Tidak pernah bulan Ramadhan itu hadir di antara kita tanpa membawa kebahagiaan tersendiri. Anak-anak bisa jalan-jalan dini hari sambil membangunkan orang untuk sahur, atau bermain petasan setelah sholat Shubuh. Orang-orang dewasa yang tidak memiliki makanan untuk berbuka puasa, atau yang baru pulang dari kantor, bisa mampir ke masjid yang menyediakan buka bersama. Sedangkan untuk pemuda kampung seperti saya, kebahagiaan bisa hadir di setiap kegiatan di masjid bersama teman-teman pemuda yang lain, termasuk yang berkaitan dengan takjil.

Ada hubungan spesial antara kami dengan takjil, yang mungkin tidak dirasakan kelompok orang tua dan anak kecil, yaitu amanah sosial untuk membagikan takjil ke jamaah sholat tarawih. Posisi ini memberikan kesenangan yang multi-konteks. Sembari menunggu waktu untuk mulai beroperasi, kami menikmati saat-saat bercanda dan membicarakan hal-hal acak. Selain itu, ada keseruan tersendiri ketika kami mulai mengatur strategi operasi. Berlebihankah? Saya rasa tidak. Faktanya, memang ada strategi khusus yang harus diterapkan dalam operasi takjil, seperti penentuan prioritas pembagian dan pengaturan wilayah operasi masing-masing pemuda.

Di dalam masjid, jamaah terbagi menjadi beberapa kelompok yang berada di tempat yang berbeda-beda. Secara umum, kami biasa membaginya menjadi empat kelompok; bapak-bapak dalam, bapak-bapak luar, anak-anak, dan ibu-ibu. Saya kurang tahu apakah isu gender bermain di sini, tetapi yang menjadi prioritas pertama adalah bapak-bapak dalam dan anak-anak. Maka dari itu, kita bisa memainkan langkah-langkah politis bila ingin menghindari pertemuan dengan bapak-bapak dalam, semua terkait dengan timing.

Percikan Api Selepas Sahur

Oct 29, 2013

...bagi kami, petasan seperti memang memiliki sihir yang indah dan spesial. Mutlak mengesankan. 
Pada saat saya kecil, bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Bukan masalah rahmat dan pahala yang membuncah, melainkan karena saya bisa membayangkan kesenangan-kesenangan yang bisa kami lakukan di bulan itu. Selain kesenangan yang muncul pada waktu sholat tarawih, kami juga punya agenda menyenangkan lain setelah sahur, yaitu bermain petak umpet dan petasan (mercon). Kali ini saya ingin mengingat sebagian kenangan tentang saya dan petasan.

Kami tinggal di kampung, maka dari itu ada banyak lahan luas untuk bermain. Pun saya sendiri waktu itu belum punya gadget-ganget seperti anak kecil sekarang, bahkan orang tua saya pun belum punya ponsel. Celakanya, sebagai anak kecil justru merasa sok-sokan punya energi berlebih, sehingga enggak bisa tidur begitu saja setelah sholat Shubuh. Maka dari itu, kami anak-anak kampung seperti enggak punya pilihan selain bermain di luar, tapi memang menyenangkan.

Orang-orang Alhamdulillah

Aug 3, 2013

Kalau kita termasuk orang-orang Alhamdulillah, kita tidak akan menyia-nyiakan waktu dan tenaga kita untuk mengeluh (komplain).

Dalam hidup ini, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Sebagai makhluk sosial, kita akan selalu berinteraksi dengan orang lain, secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam interaksi tersebut, berlaku hukum roda: kadang kita berada di posisi atas, kadang di bawah. Dengan kata lain, kadang kita membutuhkan bantuan orang lain, dan kadang kita memiliki kesempatan untuk membantu orang lain.

Jenis dan besarnya bantuan itu bervariasi, ada yang besar dan kecil. Pun demikian, idealnya kita selalu menyempatkan diri untuk bilang “terima kasih”, tanpa memandang besar-kecilnya bantuan yang kita terima.

Memancing Ikan

Ketika seseorang sedang memancing ikan di laut, terjadi dua hal yang sangat kontras. Bagi si pemancing, memancing ikan mungkin hanya semacam aktivitas untuk menyalurkan hobi atau mengisi waktu luang. Namun bagi si ikan, itu adalah perjuangan hidup dan mati.

Sadarkah?

Kita kadang tidak menyadari bahwa setiap orang mungkin memiliki pandangan yang berbeda terhadap suatu hal atau tindakan. Sebenarnya tidak salah untuk memandang sesuatu hanya dari satu sisi saja, hanya saja, kita tidak sempat untuk melihatnya dari sisi orang lain. Dengan demikian, sulit bagi kita untuk memiliki rasa peka.

Mengapa Masjid Sepi Pemuda?

Aug 2, 2013

Mengapa masjid sepi pemuda?

Getir ya pertanyaannya? Atau retoris?

Bapak-bapak memiliki daya tahan dan motivasi yang lebih kuat dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan yang mulia ini. Bukti? Datang saja ke masjid pada waktu siang hari, siapa yang lebih banyak, pemuda atau orang tua. Kemudian dalam agenda-agenda di masjid seperti pengajian atau tadarus, siapa yang lebih sering ikut?

Masya Allah, orang tua punya lebih banyak energi daripada anak muda.

Hujan dan Tarawih

Beberapa waktu yang lalu, kepercayaan saya terhadap kemanusiaan berkurang (lagi).

Menjelang Isya, gerimis tiba-tiba turun, tidak deras, tetapi konstan.

Saya bersiap untuk berangkat ke masjid, kali ini agak terburu-buru. Saya harus cepat. Karena sedang hujan, akan sangat berbahaya bila saya terlambat dan harus sholat di pelataran Masjid Azzumar. Walaupun sudah dipasang kajang, namun air hujan bisa saja bertingkah seperti perangai saya: berontak.

Detail Kecil Kebaikan

Jul 21, 2013

Dalam proses belajar kuliah kehidupan, setiap orang yang kita temui di perjalanan bisa dijadikan sebagai guru. Setiap apa-apa yang terjadi pada diri kita bisa dijadikan petunjuk, tinggal bagaimana kita melihatnya.

Poin pentingnya adalah, petunjuk itu tidak melulu hadir dalam kejadian besar. Tanda-tanda yang penting justru kerap tersembunyi pada kejadian-kejadian kecil. Dan kali ini, saya berusaha menunjukkan contoh detail kecil kebaikan.

Pada suatu hari, saat keluar dari sebuah masjid, saya melihat seorang bapak yang sedang memegang handphonenya. Kemudian terdengar bunyi nada startup Nokia dari handphone tersebut, tanda handphone baru dinyalakan.

Artinya apa? Si bapak mematikan handphone-nya saat masuk ke dalam masjid. Persis seperti perintah yang tercantum dalam bentuk stiker yang biasa ada di kaca masjid. “Masuk masjid, handphone harap dimatikan” adalah perintah yang sangat sederhana untuk dicerna, namun juga mudah diabaikan.

Komputer di Luar Kamar

Jul 18, 2013

Ramadhan kali ini benar-benar merupakan bulan pembebasan! Secara literal.

Satu bulan sebelumnya, Sya’ban, idealnya digunakan sebagai masa “tenang” untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci. Sayang sekali, Sya’ban kali ini bertepatan dengan akhir semester, waktu dimana tugas-tugas susah muncul entah darimana dan antri untuk dihabisi.

Begitu juga dengan saya, mahasiswa tingkat akhir yang tidak terlalu spesial dan suka menunda-nunda pekerjaan. Sehingga ketika deadline semakin dekat, tugas-tugas itu semakin mengisolasi saya -- membuat saya meliburkan diri dari pengajian, apalagi pergi bermain. Tugas-tugas tersebut entah bagaimana telah menyita waktu, tenaga, pikiran, biaya, mood, dan sebagainya.

Selain itu, saya sempat merasakan waktu tidur yang berantakan, ditambah semacam over-caffeine. Pasalnya, untuk kepentingan lembur, dalam satu malam saya kadang membuat kopi dua sampai tiga gelas. Saya berangkat ke kampus seperti zombie. Udara segar yang saya hela sesaat setelah berhasil mengumpulkan satu tugas mendadak menjadi hal terindah yang pernah hadir dalam hidup ini. *lebai mode: on*

Benarkah?

Saya baru bangun dari tidur siang, dan seperti kebanyakan anak muda pada generasi saya, hal pertama yang saya raih adalah hape.

Ada beberapa sms masuk, dan saya segera membalasnya. Namun apa yang akan saya tulis pada catatan kali ini bukan tentang sms yang masuk tersebut, melainkan sms yang saya kirimkan kepada seorang teman setelahnya -- seseorang yang belakangan suka memberikan pertanyaan “aneh” kepada saya lewat sms. Kali ini, giliran saya bertanya.

Pesan yang saya kirimkan cukup panjang, hingga butuh dua sms. Pesan tersebut merupakan sebuah pertanyaan pilihan, isinya kurang lebih seperti ini:

“Umpamanya kamu cowok. Kamu mau ke mesjid untuk sholat Jum’at. Karena suatu alasan, kamu udah mau telat. Ternyata di jalan kamu melihat ada kecelakaan. Kamu tetap nglanjutin jalan ke mesjid dan sampai “tepat waktu”, atau skip jum’atan hari itu untuk menolong korban kecelakaan itu?”

Misteri Puasa Mbedug II

Jul 17, 2013

“Meskipun sifatnya setengah hari, toh tetap tidak boleh dilakukan setengah hati”

Kalimat tersebut barangkali selalu ingin disampaikan ibu waktu membimbing saya dalam melakukan puasa setengah hari. Pasalnya, ibu selalu keras dalam membangunkan saya untuk sahur… bahkan sampai sekarang. Di samping karena ada barokah dalam makan sahur, ibu tentu tidak ingin saya galau kelaparan dari pagi sampai Dhuhur. Karena itu pula, saya tidak bisa menggunakan pembenaran “belum sahur” untuk men-skip puasa hari itu. Saya ingat, saya pernah menjumpai teman saya tidak puasa karena alasan tidak sahur. Hmm… betapa saya juga ingin berada di posisinya waktu itu.

Selain masalah sahur, ibu selalu mengingatkan kalau saya secara absurd lupa kalau saya lagi puasa. Pernah suatu sore ketika kami (saya, ibu, dan adik) pulang dari sebuah toko dengan berjalan kaki, saya kelupaan dan memakan permen yang saya bawa. Segera setelah memergoki tindakan saya, ibu langsung mengingatkan. Sontak saya membuang permen yang ada di mulut saya.

Misteri Puasa Mbedug

Jul 16, 2013

Hari ini tadi salah satu sepupu saya datang ke rumah. Kami membicarakan banyak hal; diantaranya tentang puasa saat kecil.

Kita sampai pada sebuah pembahasan mengenai puasa setengah hari, atau biasa disebut dengan puasa mbedug.

Puasa Mbedug adalah semacam puasa yang hanya dilakukan selama setengah hari, lebih spesifik lagi, dari shubuh sampai dhuhur. Mbedug sendiri berasal dari kata bedug, sudah tahu bedug kan? Nah itu.
Bedug biasa dibunyikan sebelum adzan berkumandang, semacam pertanda untuk dibaca. Selama ini, saya jarang sekali melihat benda yang disebut bedug ini *muncul* di masjid. Barangkali, bedug digunakan pada jaman dulu ketika pengeras suara belum populer, sebagai tanda yang paling jelas dan valid ketika suara adzan hanya terdengar samar-samar.

Sampai titik ini saya berasumsi bahwa pemakaian kata mbedug sebagai nama puasa tersebut sudah terjadi sejak lama. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana orang-orang dulu mengkorelasikan bedug *hanya* dengan waktu dhuhur. Sebagai penanda waktu adzan, seharusnya ada juga bedug ashar atau bedug magrib. Misteri Pertama.

Stupid Blunder

Jul 15, 2013


Blunder, benar-benar blunder -__-

Saya seharusnya sadar, hari pertama tarawih pasti jamaahnya membludak. 

Seperti biasa, saya baru bersiap ke masjid kalau sudah mendengar adzan, begitu juga kemarin malam. Saya sadar kalau malam ini adalah shalat Tarawih pertama (bagi warga yang mulai puasa hari Rabu), namun saya melupakan satu poin penting: membludaknya jamaah. Kelakuan saya yang sering baru berangkat setelah adzan selesai sepertinya memang sudah mendarah daging. Ditambah lagi, waktu itu ada suatu hal yang membuat keberangkatan ke masjid tertunda sebentar.

Dan hasilnya sudah dapat ditebak. Ketika saya datang, sholat Isya sudah dimulai, dan nyaris tidak ada tempat yang tersisa.

Saya akan sedikit menggambarkan situasi kemarin malam. Untuk menampung jamaah tarawih yang melebihi kapasitas masjid (plus terasnya), di halaman luar masjid digelar tikar. Tikar tersebut terdiri atas dua lapisan. Lapisan bawah adalah kresek beras, bahan yang sama untuk membuat kresek beras, bukan yang kain, tetapi yang gampang sobek itu. Lapisan bawah itu kemudian untuk alas lapisan kedua, yaitu tikar biasa. Hal tersebut sudah dirancang agar jamaah yang berada di halaman pun bisa sholat dengan nyaman.