The Disadvantage of Generalizing Everything

Jan 30, 2016

Speaking generally, generalization is stupid. *oh the irony* It’s basically about judging something using a past fact.

However, the blame is not really on someone who likes to generalize, it’s the repeated information coming toward them which make them hardly see the alternative idea. Whereas, the beauty of things lays on its possibility to change its current conditions. To be a "rounded character" if we use literature term.

So today I see two policemen coming inside a food stall with cheap foods (warteg) as I ate my breakfast. My thought then flied to the lately viral meme about a police officer who couldn’t differentiate between no “stop” and no “parking”. It’s almost automatically associated with that.

I was generalizing, I knew, because not every policeman is like that. There are any good and smart police out there. Sadly this current image of police worsen the current imagery of policeman which have been associated with corruption and bad conducts.

But it’s not my fault, isn’t? I see that information everywhere.

Then it need to be said, I guess, that not all of “ibu-ibu naik motor” (the motorbike-riding moms) is like the image constructed by our internet community. Yes I’ve been experiencing myself the situation of you on the same lane with one of them. They are riding motorbike dangerously, though it can actually be understood since most probably they lack of experience.

So relax.

One day I met this mother who bothered herself sounding her motorbike horn in getting my attention. I thought she was my friend or something. She reminded me that my turn signal is flashing. Thanks to her that I then turned off it.

What a caring driver, I guess, if they have the same amount of time riding motorbike like we have.

Here is the bottom line: generalization is the idea of seeing your life, thinking that the current condition is permanent, while in fact we don’t really know what will happen tomorrow.

However, that kind of thought is a little bit dangerous as well because generalization actually protects us from heartbreak. It makes us aware of the pattern.

I believe every idea has a counter-idea. []

I dnt knw

I miss writing so much it exceeds my longing for a girl which firstly made me love writing.

I do not actually stop writing. I wrote several essays just like what I usually did and let them passively be stored in random folders. I am reading random things, listening to my friend’s random stories, getting know some interesting ideas and wisdom. So writing random things is just the consequences of that.

I deleted them, though. Sadly. All of my recent writings. My psychology was (and still, I guess) in chaotic state. You can’t just randomly share your problems in internet, or everyone, for that matter. It waste your time. No one really care, even your closest friends. To be precise, those whom you think you are so close and important for them but you are not. That happens too often in our life we forget the pattern.

I even deleted my embryo of novels. Once became my pride. They meant the world for me. I was killing my own ideas: things that took most of my time back then in making research and inspirations.

But here is what happened: Long time of disappointments changed my thinking. It changed my worldview. It changed how I expect, how I communicate, how I react to every shit. Even the things that I read. I didn’t read as much as I suppose to do. I lost my interest in some things that I used to adore—an indication of depressing, from what I read.

I was reading myself more and left my bookcase untouched.

Once in a while I thought I am very close to suicidal. Shameful thinking for someone my age. Tough I never ashamed for thinking like that.

I always know that you should not put your expectation on other people. But I always felt for that. It’s just human nature, I guess, that we keep on expecting something from someone.  Especially those, I got this phrase from somewhere, “people who will be gone by sunset”. I kept wasting my “sunrise” keeping in touch with them hoping we share the same idea of investing time.

But then it’s only me who feel that way. It’s life, isn’t? Most of the cases the heartbreak is one-sided. We then call it a lesson in a hard way. *try not to swear*

It can be a good thing, I guess, that we are receiving daily or weekly dose of heartbreaks. I believe those who want to be a great writer need a regular dose of heartbreaks.

So thanks.

Jodoh

Nov 14, 2015

Dalam Kajian Amerika (dan mungkin ilmu kajian budaya yang lain), pemilihan topik skripsi harus memperhatikan seberapa kuat nilai budaya yang ingin dibahas, sehingga tidak terjebak dalam nilai universal. Gampangnya, pambahasan harus masuk ke dalam konteks budaya yang kita kaji. Misal, “setiap orang memiliki hak untuk hidup” adalah nilai universal, sementara nilai budaya (atau kultural) yang ada di Amerika Serikat (AS) adalah “warga sipil boleh memiliki senjata untuk melindungi diri”.

Nilai universal adalah nilai yang bisa diterima semua pihak, sementara nilai kultural bisa berbeda-beda, terikat konteks kejadian, ruang dan waktu. Untuk bisa mengerjakan penelitian dengan baik, seseorang perlu bisa mengetahui garis tegas antara nilai universal dan nilai kultural. Karena bila seorang mahasiswa Kajian Amerika terlalu fokus pada argumen “setiap orang memiliki hak untuk hidup”, tanpa mau menggali lebih jauh tentang konteks “hak hidup” di AS itu bagaimana, apa beda mereka dengan mahasiswa ilmu kajian budaya yang lain? Kajian Timur Tengah, misalnya.

Dosen saya kemudian mengatakan bahwa justru akan lebih mudah menjadi mahasiswa Kajian Amerika bila kamu ada di luar AS. Logikanya, mahasiswa asli AS akan kesulitan dalam menentukan batasan antara nilai universal dan kultural. Secara, mereka hidup di sana dengan nilai-nilai budaya AS, sehingga nilai kulturalnyapun akan menjadi terasa seperti nilai universal. Sementara mahasiwa di luar AS, kata Ibu Dosen, bisa dengan mudah menentukan nilai kultural AS. Caranya sederhana: kalau ada nilai yang berbeda dengan nilai yang kita pahami di Indonesia, berarti itulah nilai kultural AS.

Kemudian saya ingat pernah berdiskusi tentang konsep takdir. “Manusia diciptakan berpasang-pasangan” adalah ketetapan yang tertera dalam Kitab Suci. Seseorang memahami itu sebagai konsep jodoh. Dia mengatakan pada saya bahwa takdir bisa diartikan sebagai: batasan. Dengan begitu, takdir dari Tuhan adalah sesederhana “setiap manusia akan memiliki pasangan”. Dengan siapa dia menikah, itu sudah masuk ranah ikhtiar.

Merindukan Kemampuan Berjalan

Oct 14, 2015

: Nenek

Malam ini Nenek menginap di rumah. Saat aku mulai menulis catatan ini, Nenek sedang makan malam bersama Ibu. Magrib tadi, waktu aku berniat mengambil makan, Nenek kutanya: Nenek sudah makan? Beliau menjawab: Nenek kalau makan habis Isya kok. Padahal malam ini Ibu habis Isya langsung diteruskan pengajian sampai sekitar jam setengah sembilan.

Alhasil, saat aku mulai menulis catatan ini, Nenek sedang makan malam bersama Ibu.

Masih cerita saat Magrib. Setelah Magrib, seperti biasa Ibu membaca Al Qur’an. Waktu itu aku sudah hampir selesai makan, dan Ibu menyusul kami duduk di ruang tamu. Ibu mulai membaca beberapa ayat, dan Nenek kemudian mendekati Ibu sambil berkata padaku: Biar Nenek dengarkan.

Karena sudah tua, penglihatan Nenek pasti berkurang. Nenek kemungkinan besar sudah tidak sanggup lagi rutin mengaji. Karenanya Nenek kemudian “cukup senang” dengan hanya mendengarkan. Sekadar mendengarkan orang yang membaca Al Qur’an (seharusnya) adalah hal yang luar biasa. Rasulullah SAW sendiri sangat gemar mendengarkan bacaan Al-Quran dari orang lain—padahal Al-Quran itu sendiri diturunkan Tuhan kepada beliau.

Hati Seluas Lautan

Oct 9, 2015

Waktu aku pergi ke pantai. Aku melihat laut. Aku lalu membawa pulang oleh-oleh yang tidak habis dimakan dan bisa dibagikan ke semua orang: catatan perjalanan (spiritual).

wide, blue God's sign.
Seorang dosen pernah menerangkan materi tentang dua terminologi yang sama tapi beda; “ruang” dan “tempat”. Seiring berkembangnya teknologi media, paradigma tentang “tempat” berubah menjadi “ruang”. Artinya, orang-orang sudah tidak lagi membicarakan “tempat” secara fisik dan geografis, tetapi menjadi sebuah “ruang” di mana kita dipersatukan oleh teknologi, ide, atau minat yang sama. Globalisasi telah menghilangkan batas territorial antar daerah, orang-orang sekarang berbicara tentang ruang sosial dan ruang di dunia maya.

Arjun Appadurai, dalam jurnal materi kuliah itu, mengatakan: berhentilah memikirkan istilah “bentangan daratan” (landscape), dan sadarilah bahwa dunia kita sekarang secara teori dipetakan ke dalam bentangan etnis (ethnoscapes), media (mediascape), teknologi (technoscape), kepentingan ekonomi (financescape), dan ide (ideoscape). Aku tertarik dengan istilah yang terakhir, dan memahaminya sebagai sebuah kelompok yang orang-orangnya memiliki ide yang sama. Sebuah ruangan yang dibangun dengan pondasi idealisme.

Banyak orang menciptakan ruangan ide tertentu yang begitu eksklusif sehingga tidak setiap orang dia ijinkan masuk. Noe Letto memiliki sebuah ruang rindu tempat dia bertemu dengan “seseorang yang datang dan pergi begitu saja”. Rumi mengundang seseorang ke dalam sebuah taman yang terletak di sebuah ruang yang berada “di luar nilai salah dan benar”.

Kamera Langit

Sep 30, 2015

Kata seorang teman, ujian yang sebenarnya ketika kita mengerjakan tes adalah bukan tentang bagaimana mengerjakan soalnya, melainkan bagaimana menjaga iman kita untuk tidak melakukan hal yang tidak jujur. Ujian yang sebenarnya adalah: apakah kita merasakan kehadiran Tuhan atau tidak. Lalu apa hubungannya dengan tulisan ini?

Mungkin tidak ada.

Suatu pagi Ibu menyuruh saya pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa barang. Toko itu sudah sering saya kunjungi, namun kali ini saya menyadari sesuatu: bahwa ada kamera CC TV di halaman parkirnya. Dulu saya mendapati ada sebuah monitor menyala di dalam ruangan, namun tidak menyadari kalau itu adalah tayangan langsung dari sebuah tempat. Ketika saya melihat bahwa gambar bisu yang ditampilkan adalah gambar motor, saya langsung menuju parkiran dan mencari-cari di mana kamera diletakkan. Dan viola! Saya menemukan satu kamera tergantung di salah satu sudut—tanpa dosa.

Dosen saya suatu ketika pernah membahas tentang bagaimana kamera bisa mempengaruhi orang di sekitarnya. Itu adalah semacam intermezzo, karena yang didiskusikan pada waktu itu adalah tentang bagaimana seorang pria memposisikan pandangan matanya pada sebuah gambar iklan. Ibu dosen membandingkan dua iklan, satu menampilkan orang kulit putih, satu menampilkan orang kulit hitam. Dalam iklan tersebut, si kulit putih tidak menatap ke kamera, sedangkan si kulit hitam menatap kamera.

Orang Bisa Mati, tapi Idenya Tidak

Sep 26, 2015

Nassirun Purwokartun ternyata benar ketika mengatakan pada saya bahwa menulis bukan hanya soal menyendiri di dalam kamar. Maksudnya, saya sempat memikirkan maksud filosofis dari pernyataan beliau, ternyata itu memang bermakna literal. Sejauh ini, saya menulis di tempat yang berbeda-beda; dalam kamar, rumah Nenek, sekre UKM, di tengah-tengah rapat, bahkan di dalam arena badminton ketika menunggu giliran main. *serius*

Ide kadang muncul di otak di luar kendali kita, di waktu-waktu yang sebenarnya kita perlu fokus melakukan sesuatu (yang paling parah, ketika sholat). Agar tidak menguap begitu saja, ide tersebut harus segera ditulis, minimal kata kuncinya di tulis di hape. Ide seperti ikan salmon yang berenang lurus melintasi sungai pikiran, kau harus segera menjaringnya sebelum ikan itu berenang menjauh. Maka dari itu, akhir-akhir ini saya kembali sering membawa laptop kemana-mana. Karena salah satu aturan penting ketika menjadi penulis adalah: selalu bawa buku catatan dan pulpen cadangan.

Hal yang paling menyenangkan ketika menyelami dunia ide adalah bahwa kamu tidak perlu memikirkan apakah ide itu bisa diterapkan atau tidak. Kamu bisa menuliskan sesuatu berdasarkan ide yang berada di “menara gading”, yang tidak menyentuh tanah bernama realitas (atau belum). “Ketika menulis, tetaplah mabuk agar realitas tidak bisa menghancurkanmu”, begitulah pesan dari Ray Bradbury. Ide memang bersifat non-material, karenanya orang-orang berpaham materialism tidak tertarik dengan eksistensinya. Ide tumbuh dalam otak orang-orang idealis.

Agama Mas Apa?

Sep 23, 2015

Tempo hari salah satu murid les, kelas 5 SD, tiba-tiba nanya “Mas, agama Mas apa?”.

Saya kaget juga, apakah tampilan saya kurang akhi-akhi? Hahaha. Lalu karena dia masih SD, tanpa banyak berfilsafat saya jawab saja: Islam.

Tapi kemudian saya sadar bahwa itu adalah pernyataan subyektif dari saya sendiri sebagai manusia. Self-proclaim, bahasa kerennya, alias ngaku-ngaku. Karena Islam sendiri artinya submit, tunduk dan patuh, sami'na wa ato'na. Dan muslim kemudian berarti orang yang tunduk.

Nah, apakah selama 23 tahun “beragama Islam” ini saya sudah cukup tunduk pada perintah-Nya? Minimal yang seharusnya bisa saya lakukan, baik wajib atau sunnah. Seberapa tunduk saya, ataukah saya hanya memilih untuk menjalani perintah yang saya nyaman menjalaninya? Dan di antara sedikitnya amal itu, apakah sudah benar-benar saya niatkan atas ketundukan, ataukah lebih banyak yang karena hitung-hitungan pahala?

Tanpa sadar, pertanyaan murid saya itu mengusik kenyamanan “beragama Islam” yang hampir-hampir saya jalani semau gue ini. Menjadi seorang hamba memang hanya bisa sebatas berharap, sambil sekali-kali ngaku-ngaku. Karena dengan pengertian Islam seperti tadi, memang kemudian menjadi hak prerogatif Allah semata untuk menilai apakah kita benar-benar muslim (tunduk) atau tidak.

Astagfirullah.

Mengapa Orang Berubah

Saya punya seorang teman. Dia adalah mantan “penganut” filosofi skolastik.

Dulu saya sering berdiskusi dengannya soal keimanan. Dan untuk membalas sikap kepeduliannya pada keimanan saya, saya menawarinya sebuah buku lama yang berjudul Kuliah Tauhid. Seseorang, yang dulu sempat menjadi “guru” saya (sekarang juga masih), menyuruh saya untuk mengopi buku tersebut. Saya bilang buku ini mungkin akan bisa “menjinakkan” ke-skolastik-kannya. Rupanya, dengan tanpa dosa, dia menjawab singkat: saya bukan lagi orang skolastik.

Saya sempat berpikir, mengapa pemikiran filosofi seseorang bisa berubah-rubah. Orang itu akan terkesan seperti mencla-mencle (kalau orang Jawa bilang: esuk dhele, sore tempe). Namun kemudian saya sadar, bahwa dalam dunia filosofi, ada yang disebut dengan self-cancelling, atau gemar membatalkan argumen-argumen yang pernah dibuatnya sendiri.

Self-cancelling kemudian menjadi sebab mengapa seribu filsuf memberi seribu jawaban atas pertanyaan yang sama, misal: “apakah tujuan hidup?”. Jawaban atas pertanyaan itu terus berkembang, dari jaman Democritus sampai yang teoritis seperti Sigmund Freud. Jawaban satu akan membantai jawaban yang lain. Meski begitu, pemikiran “baru” seseorang tidak lantas terlepas begitu saja dari pemikiran lamanya.

Tentang Pluralisme

Sep 22, 2015

plu·ra·lis·me n keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya);    -- kebudayaan berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dl suatu masyarakat

Seperti yang termaktub dalam KBBI, pluralisme berarti keberagaman dalam masyarakat, misalnya dalam hal budaya atau agama. Dalam keberagaman, ada satu rumus pokok: setiap kelompok masyarakat memiliki suatu keunikan. Hal tersebut membuat satu kelompok tidak bisa disamakan dengan kelompok yang lain. Karenanya, saya gagal memahami paradigma berpikir mereka: sebagian kelompok (Islam) yang menganggap bahwa semua agama itu sama saja.

Kalau mereka bilang bahwa setiap agama itu pada dasarnya baik, atau paling tidak bertujuan pada kebaikan, saya setuju. Setiap agama memang punya banyak persamaan; tentang Tuhan, tatanan pahala dan dosa, konsep surga dan neraka, dan sebagainya. Tetapi yang perlu diingat adalah: setiap agama itu unik, memiliki nilai universal tersendiri yang diekstrak melalui kitab sucinya, ritual ibadahnya, dan “rasul”-nya. Setiap agama memiliki jalannya masing-masing. Yang jelas, setiap agama itu ada (eksis); Yahudi, Kristiani, bahkan kaum Penyembah Berhala disebut dalam Al Qur’an.

Namun, agar tidak terlampau liberal, saya meyakini hal ini: meskipun punya banyak persamaan, tidak ada agama yang benar-benar sama. Mereka membasuh tangannya sebelum berdoa; saya membasuh tangan sebelum Sholat—namun dilengkapi dengan ritual yang lain yang terdiri dari berkumur sampai membasuh kaki. Itu detail penting, yang kemudian membentuk kesatuan ritual dan memiliki istilah agama khusus: wudhu. Perbedaan (dan pembedaan) dalam ritual agama itu sangatlah penting. Tidak ada yang namanya “hanya detail tambahan belaka”.

Sifat Buruk Bawaan

Aug 15, 2015

Beberapa orang memiliki sifat buruk bawaan yang turun dari orang tuanya, seperti dengki, playboy, sombong, tidak jujur, malas, pemarah, boros, minder dsb. Dan di satu masa dalam hidupnya dia mulai sadar akan hal itu, dan ujian datang silih berganti berkaitan dengan hal itu: pendengki memiliki teman yang (kelihatannya) selalu mendapatkan hal-hal yg juga dia inginkan, pemarah memiliki teman yang menyebalkan, pembohong selalu berada di situasi dimana dia bisa berbohong, dsb. Di saat mereka lagi pengen-pengennya menjadi pribadi yang lebih baik, settingan ujian itu semakin lama semakin berat baginya.

Tapi kemudian dia sadar, bahwa dia sedang bertarung dengan unsur genetik dalam dirinya sendiri, yang mana sangat susah. Inilah kenapa dua orang yang memiliki teman menyebalkan yang sama bisa memberikan respon emosi yg berbeda, karena dia tahu dia memiliki gen pemarah yang selalu harus dia perangi, sementara orang lain tidak. Mudah bagi orang lain untuk sabar, tapi baginya setiap hari adalah pertarungan yang menyakitkan melawan gen sifat buruk dalam dirinya. Orang lain tidak paham pertarungan apa yang terjadi dalam kepalanya, sebagaimana dia tidak paham pertarungan orang lain.

Zona Nol Toleransi

Jul 7, 2015

Kalau kamu meminta nasihat hidup maka jawabanku akan selalu jangan menunda sholat. Bagiku sholat wajib harus selalu ke mesjid. Kalau aku kehilangan satu sholat jamaah maka aku otomatis sedih sampai waktu sholat berikutnya. Aku nggak paham sama konsep menunda sholat jamaah. Ini adalah zona nol toleransi.

Tentang Kapitalisme

Jul 5, 2015

“Mari kita berburu di sana! Jangan ke situ dulu!”

Ketika manusia masih berburu dan meramu, orang yang menguasai persenjataan akan memimpin konstelasi perburuan. Bersama kepala suku, mereka akan mengkoordinasi di mana kelompok yang lain akan berburu. Kelompok yang berhasil menciptakan senjata yang lebih canggih akan memperoleh hasil buruan yang lebih baik.

“Ayo kita serang Anglo-Saxon dulu! Menyerang Viking bisa urusan nanti!”

Ketika manusia beralih dari savagery (berburu dan meramu) menjadi barbarisme, konsepnya masih sama: orang yang berkuasa akan menentukan aktivitas kelompok.  Komandan akan menentukan wilayah mana yang harus dikuasai lebih dahulu.

“Dia berani menghinaku, penggal!”

Dari barbarisme, peradaban manusia berkembang menjadi feudal. Feodalisme, yang kemudian menurunkan sistem aristrokrasi, berpusat pada satu raja. Kekuasaan raja itu mutlak. Perkataannya adalah undang-undang. Raja Louise XIV di Perancis bahkan menciptakan doktrin l’etat ces moi, negara adalah saya. Raja mendapat takhta langsung dari Tuhan. Kalau kamu mengekspresikan perbedaan pendapat dengan Raja Louise, kemungkinan besar kamu akan dikirim ke penjara Bastille. Itu masih lebih beruntung daripada yang langsung dipenggal di guillotine.

Belajar Melangkah (Lagi)

Jul 4, 2015

Melangkah adalah kegiatan yang manusia lakukan tanpa berpikir. Maksudnya, kita tidak memikirkan setiap langkah yang kita ambil ketika berjalan ke suatu tempat. Kita tidak menghitung berapa banyak langkah yang harus diambil untuk sampai ke dapur, atau kulkas. Itu tidak kita lakukan lagi ketika kita beranjak dewasa.

Aku ingat waktu kecil suka menghitung berapa petak ubun yang aku lewati, sambil berjalan hati-hati agar tidak menginjak bagian sambungannya. Aku berjingkrak-jingkrak seperti seorang petualang yang melompati sungai yang penuh buaya.

Ada lagi ketika berjalan pulang sekolah, aku sebisa mungkin mencoba hanya menginjak jalan yang dinaungi bayangan pohon, seakan-akan hanya itu tanah aman yang bisa dibuat berpijak. Jadi sepanjang jalan aku banyak berharap agar terus ada bayangan dari pohon-pohon yang tinggi di pinggir jalan. Tentu saja kadang aku melewati daerah yang tidak ada pohonnya, dan kemudian aku menetapkan kalau aku kehilangan satu kesempatan dari sekian kesempatan. Seperti dalam video game.

Dunia anak-anak memang sangat imajinatif, walaupun imajinasinya tidak jauh-jauh dari game yang dia mainkan atau kartun yang dia tonton.

Langit Fajar

Jul 2, 2015

Pertama-tama marilah kita berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan langit fajar kepada hambanya yang tidak tidur lagi selepas sahur.

Konon bila kita ingin belajar ketabahan, kita bisa belajar dari langit fajar. Langit pada jam-jam subuh memberikan warna terbaik, perpindahan dari gelap menuju terang, perpindahan dari dinginnya dini hari menuju hangatnya sinar mentari. Pada saat-saat itu, matahari memberikan semburat sinar oranyenya kepada langit, dan warna abu-abu bercampur biru memberikan kekayaan warna yang hanya bisa dikalahkan oleh kuningnya langit senja.

Tapi senja tidak memberikan udara dan suhu yang segar seperti yang diberikan fajar. Senja tidak memberikan embun kepada tanaman yang selalu menantikannya. Embun memberi mereka harapan untuk hidup pada hari itu setelah sepanjang hari menahan polusi yang disebabkan aktifitas manusia. Langit fajar secara konsisten menurunkan air dari langit dan mengijinkan matahari untuk memberikan sinar pertamanya kepada semesta.

Apa Ini

Jun 26, 2015

Pada akhirnya aku sampai
pada kesadaran, bahwa jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan berikut:

"Apa itu yang kamu bawa?"
"Siapa itu artis baru yang muncul di televisi?"
"Pertandingan bola mana lagi itu yang lagi tayang?"
"Apa isi video dengan judul menarik di sidebar Youtube ini?"
"Apa berita yang barusan dishare si A ini?"
"Siapa gadis cantik yang barusan lewat tadi?"
"Status apa ini yang dibuat si B di facebook?"
"Foto apa ini yang jadi depe bbm si C?"
"Apasih sosmed yang lagi booming ini?"
"Apa ini?"
"Apa itu?"

adalah sama: distraksi.
Sesuatu yang kadang tidak perlu kau berikan perhatian
yang bisa mengalihkanmu dari tujuan kehidupan: hidupmu.

Fisika Cinta

Apr 23, 2015

Alasan kenapa manusia telah lama menyingkirkan kepercayaan mereka pada mata kepala sendiri dan menggunakan mikroskop untuk pengamatan jarak dekat dan teleskop untuk pengamatan jarak jauh adalah selain karena kapasitas indra manusia itu terbatas, juga karena mereka tidak konsisten. Mikroskop dan teleskop akan tetap memberikan gambaran yang sama, sementara pandangan manusia akan selalu berubah dari waktu ke waktu karena banyak faktor.

Lalu bukankah aneh bila seseorang begitu kekeuh dengan pendapatnya sendiri? Sebagaimana indra, pikiran kita akan terus berubah seiring waktu karena apa yang kita dengar, baca, tulis, alami, dan sebagainya. Suatu saat kita mungkin kecewa karena argumen yang dulu kita debat mati-matian ternyata pada akhirnya kita akui kebenarannya. Kalau pergulatannya hanya dengan diri sendiri sih oke, tapi kalau sudah sampai memutus tali persaudaraan maka akan sangat bahaya.

Maka, sebelum mengatakan "aku cinta kamu" atau "aku benci kamu", ingatlah bahwa hati manusia bukanlah jarum jam yang selalu konsisten berputar ke arah yang sama, hati manusia membolak-balik dari kanan ke kiri, kanan ke kiri.

Es Tut Mir Leid

Mar 31, 2015

Hidup terlalu singkat untuk belajar bahasa Jerman, itulah yang mereka katakan. Saya setuju. Saya merasa sudah terlalu tua untuk belajar banyak bahasa sekaligus. Namun belakangan ada satu frase dalam Deutsch yang menarik perhatian, yaitu ekspresi untuk menyatakan maaf: Es Tut Mir Leid, entahlah bagaimana membacanya.

Yang menarik adalah, terjemahan kata per kata dari Es Tut Mir Leid adalah it does me pain. Kau tahu bila sebuah predikat dalam English didobeli dengando atau does? Artinya si penutur ingin menekankan maksudnya. Bila indra berbahasa kita cukup sensitif, I love you akan terasa berbeda dengan I do love you. Rasanya seperti menambahkan frase “benar-benar” di depan; aku benar-benar mencintaimu.

Sekarang, it does me pain kemudian bisa diartikan “itu benar-benar melukaiku”. Orang Jerman tahu bagaimana cara terbaik mengekspresikan apa yang selama ini kita maksudkan ketika bilang “aku minta maaf”, atau “I apologize”. Ini seperti ketika kamu menyakiti seseorang, ketika orang lain terluka kamu juga menerima luka yang sama.

Saya pun seringkali merasakannya. Ketika saya tahu saya telah menyakiti seseorang, apalagi dia orang baik, malah saya yang lebih sakit hati, I do feel the pain. Kau tahu salah satu dialog yang masih saya ingat di film 12 Years a Slave, yang banyak memperlihatkan bagaimana orang kulit putih sangat suka mencambuk budak mereka? “Tidak satu hari pun ketika aku mencambuk mereka, aku tidak merasakan hatiku tersayat”. Benar, ketika kau menyakiti orang lain, kau juga akan terluka, karena Tuhan Maha Adil. Es Tut Mir Leid

Frase apologi dalam English pun sebenarnya mendekati ungkapan itu. Terjemahan dari I am sorry yang lebih tepat adalah “saya menyesal”. Sorry itu kiranya seakar dengan sorrow (dukacita). Bagi yang masih mengartikannya “maaf” biasa, baiknya mulai sekarang menggantinya dengan itu, dan agak menjeda to be “am”, menjadi I-am-sorry. Kenapa? Agar kata maaf yang keluar dari mulut tidak hanya berupa buah bibir saja. Kita biasa mengucapkannya hanya sebagai formalitas; “sorry ya, aku telat”, lalu besoknya telat lagi.

Kita terlalu sering mengucapkan kata “sorry” tanpa tahu makna yang sebenarnya, kita menjadi tidak sensitif lagi. Kita tidak benar-benar “menyesal” ketika melakukan kesalahan, kita tidak merasakan “luka” lagi. Bagaimanapun, itu bukan sepenuhnya salah kita. Bahasa memang tidak “mengajarkan” kita bahwa permintaan maaf itu didasari empati kita pada luka yang kita torehkan, lalu menyesal. Frase “aku mohon maaf” tidak cukup untuk memadani “Es Tut Mir Leid”.


Filsuf mengatakan kalau manusia adalah “binatang yang berbahasa”. Bahasa mengajari kita jauh lebih banyak dari yang kita kira, yang membedakan kita dengan binatang, yang membuat manusia menjadi manusia. []

Sensitifitas Berbahasa

Mar 29, 2015

Kalaupun indra keenam itu ada, pastilah itu akan menjadi the sense of using language. Bukan hanya menggunakan bahasa semata-mata sebagai alat komunikasi, tapi benar-benar sensitif terhadap dampak dari pilihan kata yang digunakan.

Seorang lelaki tidak “terlalu lelah” atau malah “capek” untuk menggambarkan kondisi fisiknya, tapi “kehabisan tenaga”, bukan “too tired” tapi “exhausted”. Jika indra pengenal bahasa kita cukup sensitif, “lelah” akan terasa lebih ke kondisi psikologis atau pikiran, apalagi “capek”. Tapi lelaki sejati adalah orang yang “kehabisan tenaga” setelah, mungkin, seharian bekerja keras. Itu menjelaskan bagaimana dia bekerja dengan tenang, fokus, tidak terganggu beban pikiran, seratus persen hanya mencurahkan tenaga, termasuk tenaga untuk logika—bukan emosi.

Orang yang kehabisan tenaga hanya memerlukan makan dan tidur untuk memulihkannya. Sementara orang yang lelah, selain makan dan tidur, perlurefreshing dan/atau shopping. Sekali lagi, diksi mempengaruhi dampak.

Seorang lelaki juga tidak “galau”, dia “murung”, bukan “bad mood”, tapi “depresi”. Jelas sekali bahwa “galau”, atau “terlalu sedih” erat kaitannya dengan ketidak-nyamanan emosi, yang seperti yang kita tahu, adalah girly things. Sementara “murung” adalah milik para pemikir. Dia melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan idealisme di kepalanya. Dia melihat kondisi keluarga, masyarakat, melihat kehidupan itu sendiri, yang tidak berjalan “semestinya”.

Kata “murung” adalah milik para perenung, yang kerap menjadi pelarian bila pertanyaan eksistensialisme dalam kepalanya tidak terjawab. Kata “galau” berdampak pada perilaku curhat-menangis-curhat-menangis, sementara “murung” akan menciptakan sikap pendiam, “depresi”, yang salah satu definisinya adalah “berkurangnya aktifitas fisik”, mager. Untuk menjadi “murung”, seseorang perlu alasan yang lebih dalam, yang membuatnya perlu memisahkan diri dari orang-orang (baik di dunia nyata atau maya); mungkin sampai ber-uzlah--pergi ke gua dan merenung.

Begitulah, bahasa sebagai “alat komunikasi” adalah nomor sekian, fungsi yang lebih utama dari bahasa, sebagaimana John Keating dalam Dead Poet Society meletakkannya, adalah untuk merayu wanita. 

Tentang Keimanan

Mar 14, 2015

Dulu aku pernah juga kepikiran kalau kita menjadi muslim "hanya" karena orang tua kita muslim, kemudian menanyakannya ke seorang ustaz. Beliau menjawab: "Itu pertanyaan yg tidak penting."

Aku kemudian sadar, bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang bukan fokus/prioritas kita dalam beragama, masih banyak (sekali) hal yang harus kita lakukan. Dalam banyak sekali kasus, Tuhan mengawali perintahnya dengan kalimat "Hai orang-orang yg beriman..". Maka benarlah kalau dalam banyak kasus pula, kita memang hanya perlu "percaya". Sesederhana itu.

Namun ternyata iman itu tidak gratis, aku kurang setuju dengan kalimat "Tuhan memberikannya cuma-cuma". Karena nyatanya ada hal besar yg perlu dikorbankan: kemerdekaan berpikir (dalam skala yang sangat-sangat bebas). Para ateis tidak mau menggadaikan kemerdekaan berpikir mereka, itulah mengapa mereka kekeuh dengan pendapat "semua harus logis dan rasional, semua harus bisa dilihat/didengar/disentuh".

Padahal, fitrah manusia itu nisbi. Manusia adalah tentang kebenaran yang relatif. Tidak ada yang mutlak benar, atau mutlak salah. Karenanya, argumen “kebenaran itu relatif” itu tepat bila masih dalam konteks manusia. Bila telah masuk ranah agama, maka argumen itu sudah tidak bisa lagi dikenakan. Argumen itu berubah menjadi: kebenaran itu relatif, kecuali satu. Itulah kalimat yang setiap hari kita rapal dalam duduk tasyahud (seakar dengan kata asyhadu: persaksian): tidak ada kebenaran selain Kebenaran.

Dan tugas kita adalah untuk terus mendekat ke Kebenaran itu. Tuhan sebenarnya lebih dekat dengan kita daripada urat leher kita sendiri, tapi tubuh ini terlalu bodoh dan malas untuk menyadari-Nya.


Sementara, Sudjiwo Tejo mengatakan, "tangga menuju langit adalah kepalamu, maka letakkan kakimu diatas kepalamu. Untuk mencapai Tuhan, injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu"