Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

The Disadvantage of Generalizing Everything

Jan 30, 2016

Speaking generally, generalization is stupid. *oh the irony* It’s basically about judging something using a past fact.

However, the blame is not really on someone who likes to generalize, it’s the repeated information coming toward them which make them hardly see the alternative idea. Whereas, the beauty of things lays on its possibility to change its current conditions. To be a "rounded character" if we use literature term.

So today I see two policemen coming inside a food stall with cheap foods (warteg) as I ate my breakfast. My thought then flied to the lately viral meme about a police officer who couldn’t differentiate between no “stop” and no “parking”. It’s almost automatically associated with that.

I was generalizing, I knew, because not every policeman is like that. There are any good and smart police out there. Sadly this current image of police worsen the current imagery of policeman which have been associated with corruption and bad conducts.

But it’s not my fault, isn’t? I see that information everywhere.

Then it need to be said, I guess, that not all of “ibu-ibu naik motor” (the motorbike-riding moms) is like the image constructed by our internet community. Yes I’ve been experiencing myself the situation of you on the same lane with one of them. They are riding motorbike dangerously, though it can actually be understood since most probably they lack of experience.

So relax.

One day I met this mother who bothered herself sounding her motorbike horn in getting my attention. I thought she was my friend or something. She reminded me that my turn signal is flashing. Thanks to her that I then turned off it.

What a caring driver, I guess, if they have the same amount of time riding motorbike like we have.

Here is the bottom line: generalization is the idea of seeing your life, thinking that the current condition is permanent, while in fact we don’t really know what will happen tomorrow.

However, that kind of thought is a little bit dangerous as well because generalization actually protects us from heartbreak. It makes us aware of the pattern.

I believe every idea has a counter-idea. []

I dnt knw

I miss writing so much it exceeds my longing for a girl which firstly made me love writing.

I do not actually stop writing. I wrote several essays just like what I usually did and let them passively be stored in random folders. I am reading random things, listening to my friend’s random stories, getting know some interesting ideas and wisdom. So writing random things is just the consequences of that.

I deleted them, though. Sadly. All of my recent writings. My psychology was (and still, I guess) in chaotic state. You can’t just randomly share your problems in internet, or everyone, for that matter. It waste your time. No one really care, even your closest friends. To be precise, those whom you think you are so close and important for them but you are not. That happens too often in our life we forget the pattern.

I even deleted my embryo of novels. Once became my pride. They meant the world for me. I was killing my own ideas: things that took most of my time back then in making research and inspirations.

But here is what happened: Long time of disappointments changed my thinking. It changed my worldview. It changed how I expect, how I communicate, how I react to every shit. Even the things that I read. I didn’t read as much as I suppose to do. I lost my interest in some things that I used to adore—an indication of depressing, from what I read.

I was reading myself more and left my bookcase untouched.

Once in a while I thought I am very close to suicidal. Shameful thinking for someone my age. Tough I never ashamed for thinking like that.

I always know that you should not put your expectation on other people. But I always felt for that. It’s just human nature, I guess, that we keep on expecting something from someone.  Especially those, I got this phrase from somewhere, “people who will be gone by sunset”. I kept wasting my “sunrise” keeping in touch with them hoping we share the same idea of investing time.

But then it’s only me who feel that way. It’s life, isn’t? Most of the cases the heartbreak is one-sided. We then call it a lesson in a hard way. *try not to swear*

It can be a good thing, I guess, that we are receiving daily or weekly dose of heartbreaks. I believe those who want to be a great writer need a regular dose of heartbreaks.

So thanks.

Jodoh

Nov 14, 2015

Dalam Kajian Amerika (dan mungkin ilmu kajian budaya yang lain), pemilihan topik skripsi harus memperhatikan seberapa kuat nilai budaya yang ingin dibahas, sehingga tidak terjebak dalam nilai universal. Gampangnya, pambahasan harus masuk ke dalam konteks budaya yang kita kaji. Misal, “setiap orang memiliki hak untuk hidup” adalah nilai universal, sementara nilai budaya (atau kultural) yang ada di Amerika Serikat (AS) adalah “warga sipil boleh memiliki senjata untuk melindungi diri”.

Nilai universal adalah nilai yang bisa diterima semua pihak, sementara nilai kultural bisa berbeda-beda, terikat konteks kejadian, ruang dan waktu. Untuk bisa mengerjakan penelitian dengan baik, seseorang perlu bisa mengetahui garis tegas antara nilai universal dan nilai kultural. Karena bila seorang mahasiswa Kajian Amerika terlalu fokus pada argumen “setiap orang memiliki hak untuk hidup”, tanpa mau menggali lebih jauh tentang konteks “hak hidup” di AS itu bagaimana, apa beda mereka dengan mahasiswa ilmu kajian budaya yang lain? Kajian Timur Tengah, misalnya.

Dosen saya kemudian mengatakan bahwa justru akan lebih mudah menjadi mahasiswa Kajian Amerika bila kamu ada di luar AS. Logikanya, mahasiswa asli AS akan kesulitan dalam menentukan batasan antara nilai universal dan kultural. Secara, mereka hidup di sana dengan nilai-nilai budaya AS, sehingga nilai kulturalnyapun akan menjadi terasa seperti nilai universal. Sementara mahasiwa di luar AS, kata Ibu Dosen, bisa dengan mudah menentukan nilai kultural AS. Caranya sederhana: kalau ada nilai yang berbeda dengan nilai yang kita pahami di Indonesia, berarti itulah nilai kultural AS.

Kemudian saya ingat pernah berdiskusi tentang konsep takdir. “Manusia diciptakan berpasang-pasangan” adalah ketetapan yang tertera dalam Kitab Suci. Seseorang memahami itu sebagai konsep jodoh. Dia mengatakan pada saya bahwa takdir bisa diartikan sebagai: batasan. Dengan begitu, takdir dari Tuhan adalah sesederhana “setiap manusia akan memiliki pasangan”. Dengan siapa dia menikah, itu sudah masuk ranah ikhtiar.

Hati Seluas Lautan

Oct 9, 2015

Waktu aku pergi ke pantai. Aku melihat laut. Aku lalu membawa pulang oleh-oleh yang tidak habis dimakan dan bisa dibagikan ke semua orang: catatan perjalanan (spiritual).

wide, blue God's sign.
Seorang dosen pernah menerangkan materi tentang dua terminologi yang sama tapi beda; “ruang” dan “tempat”. Seiring berkembangnya teknologi media, paradigma tentang “tempat” berubah menjadi “ruang”. Artinya, orang-orang sudah tidak lagi membicarakan “tempat” secara fisik dan geografis, tetapi menjadi sebuah “ruang” di mana kita dipersatukan oleh teknologi, ide, atau minat yang sama. Globalisasi telah menghilangkan batas territorial antar daerah, orang-orang sekarang berbicara tentang ruang sosial dan ruang di dunia maya.

Arjun Appadurai, dalam jurnal materi kuliah itu, mengatakan: berhentilah memikirkan istilah “bentangan daratan” (landscape), dan sadarilah bahwa dunia kita sekarang secara teori dipetakan ke dalam bentangan etnis (ethnoscapes), media (mediascape), teknologi (technoscape), kepentingan ekonomi (financescape), dan ide (ideoscape). Aku tertarik dengan istilah yang terakhir, dan memahaminya sebagai sebuah kelompok yang orang-orangnya memiliki ide yang sama. Sebuah ruangan yang dibangun dengan pondasi idealisme.

Banyak orang menciptakan ruangan ide tertentu yang begitu eksklusif sehingga tidak setiap orang dia ijinkan masuk. Noe Letto memiliki sebuah ruang rindu tempat dia bertemu dengan “seseorang yang datang dan pergi begitu saja”. Rumi mengundang seseorang ke dalam sebuah taman yang terletak di sebuah ruang yang berada “di luar nilai salah dan benar”.

Kamera Langit

Sep 30, 2015

Kata seorang teman, ujian yang sebenarnya ketika kita mengerjakan tes adalah bukan tentang bagaimana mengerjakan soalnya, melainkan bagaimana menjaga iman kita untuk tidak melakukan hal yang tidak jujur. Ujian yang sebenarnya adalah: apakah kita merasakan kehadiran Tuhan atau tidak. Lalu apa hubungannya dengan tulisan ini?

Mungkin tidak ada.

Suatu pagi Ibu menyuruh saya pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa barang. Toko itu sudah sering saya kunjungi, namun kali ini saya menyadari sesuatu: bahwa ada kamera CC TV di halaman parkirnya. Dulu saya mendapati ada sebuah monitor menyala di dalam ruangan, namun tidak menyadari kalau itu adalah tayangan langsung dari sebuah tempat. Ketika saya melihat bahwa gambar bisu yang ditampilkan adalah gambar motor, saya langsung menuju parkiran dan mencari-cari di mana kamera diletakkan. Dan viola! Saya menemukan satu kamera tergantung di salah satu sudut—tanpa dosa.

Dosen saya suatu ketika pernah membahas tentang bagaimana kamera bisa mempengaruhi orang di sekitarnya. Itu adalah semacam intermezzo, karena yang didiskusikan pada waktu itu adalah tentang bagaimana seorang pria memposisikan pandangan matanya pada sebuah gambar iklan. Ibu dosen membandingkan dua iklan, satu menampilkan orang kulit putih, satu menampilkan orang kulit hitam. Dalam iklan tersebut, si kulit putih tidak menatap ke kamera, sedangkan si kulit hitam menatap kamera.

Orang Bisa Mati, tapi Idenya Tidak

Sep 26, 2015

Nassirun Purwokartun ternyata benar ketika mengatakan pada saya bahwa menulis bukan hanya soal menyendiri di dalam kamar. Maksudnya, saya sempat memikirkan maksud filosofis dari pernyataan beliau, ternyata itu memang bermakna literal. Sejauh ini, saya menulis di tempat yang berbeda-beda; dalam kamar, rumah Nenek, sekre UKM, di tengah-tengah rapat, bahkan di dalam arena badminton ketika menunggu giliran main. *serius*

Ide kadang muncul di otak di luar kendali kita, di waktu-waktu yang sebenarnya kita perlu fokus melakukan sesuatu (yang paling parah, ketika sholat). Agar tidak menguap begitu saja, ide tersebut harus segera ditulis, minimal kata kuncinya di tulis di hape. Ide seperti ikan salmon yang berenang lurus melintasi sungai pikiran, kau harus segera menjaringnya sebelum ikan itu berenang menjauh. Maka dari itu, akhir-akhir ini saya kembali sering membawa laptop kemana-mana. Karena salah satu aturan penting ketika menjadi penulis adalah: selalu bawa buku catatan dan pulpen cadangan.

Hal yang paling menyenangkan ketika menyelami dunia ide adalah bahwa kamu tidak perlu memikirkan apakah ide itu bisa diterapkan atau tidak. Kamu bisa menuliskan sesuatu berdasarkan ide yang berada di “menara gading”, yang tidak menyentuh tanah bernama realitas (atau belum). “Ketika menulis, tetaplah mabuk agar realitas tidak bisa menghancurkanmu”, begitulah pesan dari Ray Bradbury. Ide memang bersifat non-material, karenanya orang-orang berpaham materialism tidak tertarik dengan eksistensinya. Ide tumbuh dalam otak orang-orang idealis.

Agama Mas Apa?

Sep 23, 2015

Tempo hari salah satu murid les, kelas 5 SD, tiba-tiba nanya “Mas, agama Mas apa?”.

Saya kaget juga, apakah tampilan saya kurang akhi-akhi? Hahaha. Lalu karena dia masih SD, tanpa banyak berfilsafat saya jawab saja: Islam.

Tapi kemudian saya sadar bahwa itu adalah pernyataan subyektif dari saya sendiri sebagai manusia. Self-proclaim, bahasa kerennya, alias ngaku-ngaku. Karena Islam sendiri artinya submit, tunduk dan patuh, sami'na wa ato'na. Dan muslim kemudian berarti orang yang tunduk.

Nah, apakah selama 23 tahun “beragama Islam” ini saya sudah cukup tunduk pada perintah-Nya? Minimal yang seharusnya bisa saya lakukan, baik wajib atau sunnah. Seberapa tunduk saya, ataukah saya hanya memilih untuk menjalani perintah yang saya nyaman menjalaninya? Dan di antara sedikitnya amal itu, apakah sudah benar-benar saya niatkan atas ketundukan, ataukah lebih banyak yang karena hitung-hitungan pahala?

Tanpa sadar, pertanyaan murid saya itu mengusik kenyamanan “beragama Islam” yang hampir-hampir saya jalani semau gue ini. Menjadi seorang hamba memang hanya bisa sebatas berharap, sambil sekali-kali ngaku-ngaku. Karena dengan pengertian Islam seperti tadi, memang kemudian menjadi hak prerogatif Allah semata untuk menilai apakah kita benar-benar muslim (tunduk) atau tidak.

Astagfirullah.

Mengapa Orang Berubah

Saya punya seorang teman. Dia adalah mantan “penganut” filosofi skolastik.

Dulu saya sering berdiskusi dengannya soal keimanan. Dan untuk membalas sikap kepeduliannya pada keimanan saya, saya menawarinya sebuah buku lama yang berjudul Kuliah Tauhid. Seseorang, yang dulu sempat menjadi “guru” saya (sekarang juga masih), menyuruh saya untuk mengopi buku tersebut. Saya bilang buku ini mungkin akan bisa “menjinakkan” ke-skolastik-kannya. Rupanya, dengan tanpa dosa, dia menjawab singkat: saya bukan lagi orang skolastik.

Saya sempat berpikir, mengapa pemikiran filosofi seseorang bisa berubah-rubah. Orang itu akan terkesan seperti mencla-mencle (kalau orang Jawa bilang: esuk dhele, sore tempe). Namun kemudian saya sadar, bahwa dalam dunia filosofi, ada yang disebut dengan self-cancelling, atau gemar membatalkan argumen-argumen yang pernah dibuatnya sendiri.

Self-cancelling kemudian menjadi sebab mengapa seribu filsuf memberi seribu jawaban atas pertanyaan yang sama, misal: “apakah tujuan hidup?”. Jawaban atas pertanyaan itu terus berkembang, dari jaman Democritus sampai yang teoritis seperti Sigmund Freud. Jawaban satu akan membantai jawaban yang lain. Meski begitu, pemikiran “baru” seseorang tidak lantas terlepas begitu saja dari pemikiran lamanya.

Tentang Pluralisme

Sep 22, 2015

plu·ra·lis·me n keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya);    -- kebudayaan berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dl suatu masyarakat

Seperti yang termaktub dalam KBBI, pluralisme berarti keberagaman dalam masyarakat, misalnya dalam hal budaya atau agama. Dalam keberagaman, ada satu rumus pokok: setiap kelompok masyarakat memiliki suatu keunikan. Hal tersebut membuat satu kelompok tidak bisa disamakan dengan kelompok yang lain. Karenanya, saya gagal memahami paradigma berpikir mereka: sebagian kelompok (Islam) yang menganggap bahwa semua agama itu sama saja.

Kalau mereka bilang bahwa setiap agama itu pada dasarnya baik, atau paling tidak bertujuan pada kebaikan, saya setuju. Setiap agama memang punya banyak persamaan; tentang Tuhan, tatanan pahala dan dosa, konsep surga dan neraka, dan sebagainya. Tetapi yang perlu diingat adalah: setiap agama itu unik, memiliki nilai universal tersendiri yang diekstrak melalui kitab sucinya, ritual ibadahnya, dan “rasul”-nya. Setiap agama memiliki jalannya masing-masing. Yang jelas, setiap agama itu ada (eksis); Yahudi, Kristiani, bahkan kaum Penyembah Berhala disebut dalam Al Qur’an.

Namun, agar tidak terlampau liberal, saya meyakini hal ini: meskipun punya banyak persamaan, tidak ada agama yang benar-benar sama. Mereka membasuh tangannya sebelum berdoa; saya membasuh tangan sebelum Sholat—namun dilengkapi dengan ritual yang lain yang terdiri dari berkumur sampai membasuh kaki. Itu detail penting, yang kemudian membentuk kesatuan ritual dan memiliki istilah agama khusus: wudhu. Perbedaan (dan pembedaan) dalam ritual agama itu sangatlah penting. Tidak ada yang namanya “hanya detail tambahan belaka”.

Sifat Buruk Bawaan

Aug 15, 2015

Beberapa orang memiliki sifat buruk bawaan yang turun dari orang tuanya, seperti dengki, playboy, sombong, tidak jujur, malas, pemarah, boros, minder dsb. Dan di satu masa dalam hidupnya dia mulai sadar akan hal itu, dan ujian datang silih berganti berkaitan dengan hal itu: pendengki memiliki teman yang (kelihatannya) selalu mendapatkan hal-hal yg juga dia inginkan, pemarah memiliki teman yang menyebalkan, pembohong selalu berada di situasi dimana dia bisa berbohong, dsb. Di saat mereka lagi pengen-pengennya menjadi pribadi yang lebih baik, settingan ujian itu semakin lama semakin berat baginya.

Tapi kemudian dia sadar, bahwa dia sedang bertarung dengan unsur genetik dalam dirinya sendiri, yang mana sangat susah. Inilah kenapa dua orang yang memiliki teman menyebalkan yang sama bisa memberikan respon emosi yg berbeda, karena dia tahu dia memiliki gen pemarah yang selalu harus dia perangi, sementara orang lain tidak. Mudah bagi orang lain untuk sabar, tapi baginya setiap hari adalah pertarungan yang menyakitkan melawan gen sifat buruk dalam dirinya. Orang lain tidak paham pertarungan apa yang terjadi dalam kepalanya, sebagaimana dia tidak paham pertarungan orang lain.

Zona Nol Toleransi

Jul 7, 2015

Kalau kamu meminta nasihat hidup maka jawabanku akan selalu jangan menunda sholat. Bagiku sholat wajib harus selalu ke mesjid. Kalau aku kehilangan satu sholat jamaah maka aku otomatis sedih sampai waktu sholat berikutnya. Aku nggak paham sama konsep menunda sholat jamaah. Ini adalah zona nol toleransi.

Tentang Kapitalisme

Jul 5, 2015

“Mari kita berburu di sana! Jangan ke situ dulu!”

Ketika manusia masih berburu dan meramu, orang yang menguasai persenjataan akan memimpin konstelasi perburuan. Bersama kepala suku, mereka akan mengkoordinasi di mana kelompok yang lain akan berburu. Kelompok yang berhasil menciptakan senjata yang lebih canggih akan memperoleh hasil buruan yang lebih baik.

“Ayo kita serang Anglo-Saxon dulu! Menyerang Viking bisa urusan nanti!”

Ketika manusia beralih dari savagery (berburu dan meramu) menjadi barbarisme, konsepnya masih sama: orang yang berkuasa akan menentukan aktivitas kelompok.  Komandan akan menentukan wilayah mana yang harus dikuasai lebih dahulu.

“Dia berani menghinaku, penggal!”

Dari barbarisme, peradaban manusia berkembang menjadi feudal. Feodalisme, yang kemudian menurunkan sistem aristrokrasi, berpusat pada satu raja. Kekuasaan raja itu mutlak. Perkataannya adalah undang-undang. Raja Louise XIV di Perancis bahkan menciptakan doktrin l’etat ces moi, negara adalah saya. Raja mendapat takhta langsung dari Tuhan. Kalau kamu mengekspresikan perbedaan pendapat dengan Raja Louise, kemungkinan besar kamu akan dikirim ke penjara Bastille. Itu masih lebih beruntung daripada yang langsung dipenggal di guillotine.

Tentang Ilmu yang Multidisiplin

Mar 12, 2015

Hari-hari ini aku mencari-cari lagi pentingnya American Studies, pentingnya kuliah yang kulakukan. Jangan sampai semakin ke sini aku lupa alasanku masuk Amstud.

Hal yang paling menakjubkan dari American Studies adalah bagaimana ia menghargai pemikiran yang beragam. Dalam menghadapi satu isu tertentu, ia membiarkan penelitinya memakai banyak pendekatan. Itulah yang disebut multidisciplinary studies--ilmu yang multidisiplin.

Tapi kemudian aku berpikir, bukankah "keluasan ilmu" itu juga yang menjadi kelemahan terbesarnya? Ironis. Kita tahu terlalu banyak, tapi mendalami terlalu sedikit. We know too much, but understand too less. Mahasiswa kajian Amerika memang membaca banyak jurnal yang tidak hanya fokus pada satu hal. Tapi aku sangsi tiap mahasiswanya bisa berbicara atau menulis secara dalam tentang satu topik, bahkan untuk topik yang paling disenanginya.

Tapi kemudian aku merenungi juga kata "fokus". Apakah kita tega membiarkan otak kita yang canggih ini hanya dipakai untuk mempelajari satu hal? Aku membayangkan mahasiswa Amstud bisa menjadi semacam polymath, ilmuan "mutidisipliner" jaman dulu--yang ekspert dalam banyak hal tapi tetap "fokus" pada satu yang dicintainya.

Temanku dulu pernah menjelaskan konsep "multidisiplin" dari ilmuan jaman dulu itu, mereka mempelajari banyak hal juga "pilih-pilih". Yang berbeda dari mereka adalah target besar dalam hidup yang ingin dicapai. Mereka ingin menciptakan apa untuk kemanusiaan, dan ilmu apa saja yang diperlukan untuk mencapai kesempurnaan penciptaan itu.

Jadi misal dia ingin menjadi kapten kapal yang luar biasa; maka dia akan bersungguh-sungguh mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, misal ilmu air, kelautan, navigasi, angin, dan bahkan astronomi. Atau bila dia ingin menciptakan lampu seperti Alfa Edison, maka dia akan mempelajari lebih banyak hal lagi: fisika, kimia, listrik, hukum energi, dan sebagainya.

Banyak hal itu dipelajarinya tapi semua itu untuk mendukung kecintaannya pada satu pencapaian tertentu. Sesuatu yang banyak itu untuk satu kesempurnaan.

Tidak seperti sistem pendidikan sekarang yang fokus pada "astronominya" tapi tidak ada motivasi untuk menjadi "kapten kapal yang luar biasa". Kita kadang malah tidak tahu sebenarnya apa guna dari yang kita pelajari selama bertahun-tahun.

Kita sendiri seperti terpisah dari peran kita dalam membuat kemajuan jaman. Seperti seorang buruh pabrik mobil yang sangat pandai dalam membuat ban tapi tidak tahu bahwa dia sedang menjadi bagian dalam pembuatan mobil. Makanya banyak orang yang merasa pandai tapi tidak sadar bahwa dia sedang dimanfaatkan oleh kekuatan di atasnya.
Teralieniasi, kita terasing dari apa yang kita lakukan sehari-hari, seperti kata Karl Marx.

Doesn't Matter Who I Am

Jan 18, 2015

Ketika kau mulai suka pada sains (ilmu), hal yang akan kau kesampingkan bukanlah iman, tapi egomu. Yang jauh dari sains bukanlah agama, tapi keakuan dalam dirimu. Keilmiahan akan senantiasa satu pohon keluarga dengan obyektivitas. Tapi subyektivitas? Selalu akan menjadi kawan jauh.

Dalam sains, bukan dirimu yang penting. Sains selalu tentang obyek di luar dirimu: masyarakat, negara, hingga alam semesta. Kau akan benar-benar merasa kecil bila kau merenungkan posisimu di hadapan semesta.

Bumi berevolusi mengelilingi matahari, matahari berevolusi bersama bintang-bintang lainnya di Bimasakti. Bimasakti bergerak bersama galaksi lainnya mengelilingi sesuatu yang lebih besar darinya. Sesuatu yang lebih besar itu tentu akan bergerak mengelilingi sesuatu yang lain yang bahkan lebih besar lagi. Begitu seterusnya, sampai semesta kesekian mengelilingi satu inti: pusat Cahaya, atau Inti Kehidupan, atau Kesempurnaan, atau Kebenaran, atau Tuhan.

Kita secara literal benar-benar sangat kecil, mendekati tiada. Begitulah ilmu akan merendahkan hatimu.

Sains tidak meminta pengakuan, karena itulah sifat alami kebenaran; dia tidak meminta orang untuk percaya. Kebenaran akan tetap menjadi kebenaran tidak peduli berapa orang yang percaya dan mengikutinya. Sementara ego haus akan pengakuan dan penerimaan, haus akan eksistensi, haus akan "like".

Semakin kesini kau akan lihat orang semakin sering bercerita tentang diri mereka sendiri; di facebook, twitter, dan setiap sosmed yang bisa kau sebutkan. Terlalu banyak "aku, aku, kehidupanku, dan pendapatku". Maka belajarlah bersikap ilmiah: geruslah keakuan dalam dirimu. Bertahanlah dalam kebenaran, bukan keakuan.

Tidak perlu capek-capek menghumasi diri sendiri. Bila Semesta mengakui usahamu untuk lebih mengobservasi dan mengenalnya; dia sendiri yang akan mencatatmu dalam sejarah.

"Doesn't matter who I am. Who I am means absolutely nothing."

Musik Haram?

Jan 15, 2015

Sebagian orang mengharamkan musik karena yang mereka tahu lirik lagu hanya berisi love, sex, rock and roll, dan sebagainya. Kita tahu bahwa beberapa orang perlu lagu untuk menjadi kreatif, termasuk dalam dakwah. Ada orang-orang seperti Michael Heart yang membangun kesadaran global lewat lagu. (Meskipun jauh lebih banyak yang membangun keapatisan global lewat lagu--orang-orang ditidurkan).

Kalau pendekatan mereka adalah bahwa otak adalah seperti spons, yang baiknya lebih banyak digunakan untuk menyerap rumus matematika daripada lirik lagu; akan lebih banyak orang yang setuju.

The Medium is the Message

Jan 14, 2015

Saya sudah lama mengkhatamkan novel You Are the Apple of My Eye oleh Giddens Ko. Sebelum membaca novel ini, saya sudah lebih dulu menyaksikan film yang mengadaptasinya dengan judul yang sama. Ketika menonton film itu, sebagaimana ketika menonton beberapa film drama Asia lainnya, saya selalu menangkap ending yang meruntuhkan imajinasi. Maksudnya, ending yang ada di film itu tidak sama dengan ending yang saya bayangkan ketika tengah menyaksikan cerita yang berjalan.

Sederhananya: saya tidak terima dengan endingnya.

Di antara drama-drama Asia yang pernah saya tonton, mungkin film inilah yang paling membuat saya galau. Film tahun 2011 yang menjadi box office di Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Cina ini rupanya masih menyisakan sesuatu kegundahan dalam pikiran: kenapa Ke Jingteng dan Shen Jiayi putus hubungan begitu saja dalam satu event cerita (mengingat puluhan menit sebelum itu isinya perjuangan Ke Jingteng untuk mendapatkan Shen Jiayi).There must be something missing in the story. Karenanya saya membeli novelnya untuk menemukan missing link tadi.

Ngengat dan Cahaya yang Mengkhianatinya

Dec 26, 2014

Pada tahun 1591, Raja Tawangalun II, salah satu raja dari Kerajaan Blambangan, yang diklaim sebagai kerajaan Hindu terakhir di Indonesia, meninggal dunia. Dari 400 permaisurinya, 270 diantaranya mengikuti upacara Sati (bakar diri) bersama sang raja. Romantis, atau bodoh?

Kisah cinta jaman dahulu memang seringkali membuat kita takjub. Setiap kisah kesetiaan dan ending yang memilukan terkesan tidak masuk akal dalam pikiran kita yang telah lama dididik kisah cinta Hollywood. Tapi bila kamu menganggap bodoh ke-270 permaisuri Tawangalun II itu, coba cermati satu hadist yang saya temukan tempo hari:

“Abu Hurairah telah mendengar Rasulullah bersabda: Perumpamaan diriku dengan orang-orang yang kudakwahi adalah bagaikan seseorang yang menyalakan api, dan ketika api telah menerangi sekelilingnya maka datanglah ngengat dan serangga lainnya terbang menuju api. Orang itu kemudian berusaha menahan serangga-serangga itu masuk ke dalam api, tetapi serangga-serangga itu mengalahkannya dan terjun masuk ke dalam api. Rasulullah menambahkan: Demikianlah aku menarik ikat pinggangmu supaya kamu tidak masuk neraka, tetapi kamu bersikeras masuk ke dalam api.” - Shahih Bukhari

Rasulullah selalu mengeluarkan pernyataan yang luar biasa, baik secara ilmiah dan filosofis. Tapi hadist yang satu itu menjadi begitu diperlukan di masa sekarang, terlebih sebentar lagi kita akan menjumpai satu kejadian yang begitu gemerlap: perayaan Tahun Baru Masehi. Untuk memahami betapa ilmiahnya fenomena yang tergambar dari hadist di atas, kita perlu tahu apa yang dimaksud dengan makhluk fototaksis.

Fototaksis adalah makhluk yang secara naluri bergerak mendekati atau menjauhi cahaya. Kecoak adalah satu contoh hewan yang berfototaksis negatif, atau menjauhi cahaya. Kita banyak menemukan kecoak di tempat-tempat yang jarang ada cahaya seperti gudang atau ruang bawah tanah. Sementara ngengat, seperti disabdakan Rasulullah, secara naluri bergerak mendekati cahaya—yang kemudian disebut fototaksis positif. Mereka seperti terkesima dengan lampu di rumah kita atau api unggun yang kita buat, bahkan ketika cahaya yang dicintainya itu menghancurkannya. Naas


Sampai sekarang tidak ada satu penjelasan yang pasti mengenai bagaimana ngengat (dan serangga lainnya seperti laron) bisa sebegitu terpikatnya dengan cahaya. Namun ada satu teori populer yang mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak terpikat, tapi terdisorientasi, alias terbingungkan.

Beberapa tipe ngengat dikenal suka bermigrasi di malam hari, dan menggunakan cahaya bulan sebagai petunjuk utama yang menjadi navigasi mereka. Jadi sebenarnya keterpikatan ngengat terhadap cahaya palsu atau bahkan api tidak lain disebabkan karena mereka tidak “menyangka” bisa benar-benar mendekati “bulan”, bahkan terbang di atasnya—mereka kemudian bingung.

Puisi itu sebenarnya penting nggak sih?

Dec 23, 2014

jengrenny.wordpress.com

“Puisi itu sebenarnya penting nggak sih?”

Dosen mengawali kuliah dengan pertanyaan seperti itu. Kelas masih terdiam, sampai kemudian beliau mengatakan hal yang luar biasa, “Kalian coba bayangkan kalau kita hidup di jaman ketika teknologi belum seperti sekarang.”

Cukup adil sih. Maksudnya, kalau kita bicara budaya, pasti terikat ruang dan waktu kapan dia booming. Ada sesuatu yang disebut “jiwa jaman”, yang juga disebut zeitgeist. Setiap era memiliki semangat yang berbeda. Jujur, saya tidak tahu puisi itu menjadi jiwa jaman pada tahun berapa saja. Saya memang bukan orang yang begitu tertarik dengan sastra. Setiap kutipan puisi yang saya cantumkan pada catatan-catatan sebelumnya hanya untuk mengesankan pembaca. Yap, saya pura-pura suka puisi.

(kalau jatuh cinta bisa langsung membuatmu suka puisi, tentu sampai sekarang puisi akan terus berkembang)

Puisi adalah semacam teknologi. Bukan teknologi yang sering kita asosiasikan dengan gadget, melainkan technology of the self. Itu istilah dari seorang dosen, mari kita terjemahkan saja menjadi: teknologi diri sendiri. Saya kurang paham hubungan antara “puisi” dengan “teknologi diri sendiri”. Mungkin karena bila ingin membuat atau memahami puisi, otak seseorang harus cukup canggih untuk merekatkan diksi dengan balutan aliterasi, asonansi, atau rima. Saya kemudian berasumsi bahwa semakin seseorang menyukai puisi, berarti dia semakin canggih.

Pria-pria Sombong

Nov 25, 2014

Kawan, kalau kamu masih ingin tahu betapa perlunya bagi kita untuk konsisten menulis, pahamilah apa yang aku sampaikan kali ini.

Beberapa waktu yang lalu aku menemukan sebuah artikel tentang 18 cara untuk meningkatkan kecerdasan, dan “membuat jurnal” tertulis pada nomer dua. Di situ dikatakan kalau Catharine M. Cox, seorang penulis buku, pernah mempelajari kebiasaan 300 orang jenius (seperti Isaac Newton, Einstein, dan Thomas Jefferson) dan menemukan bahwa semua orang jenius tersebut merupakan penulis jurnal atau buku harian yang rajin. Thomas Edison bahkan menulis tiga juta halaman catatan, surat, dan pemikiran pribadinya dalam ratusan jurnal pribadi sepanjang hidupnya.

Mereka, pria-pria “sombong” itu (termasuk Gie), melakukannya tanpa laptop dan internet. Kamu tahu, Kawan? Aku benar-benar memikirkan “pertanyaan” dosenku yang pernah aku sampaikan padamu: “Sebenarnya apa sih pentingnya laptop dan internet? Toh Aristoteles bisa menulis pemikiran hebat tanpa itu semua?” Aku serius memikirkannya, I mean it.

Membeli Hati Perempuan

Nov 16, 2014

Untuk menyamakan persepsi, kita akan mulai tulisan ini dengan fakta; bahwa akan selalu muncul hape yang baru di pasaran, yang akan terupgrade baik secara software atau hardware. Dan seiring waktu kita tumbuh dewasa, produksi hape akan semakin masif. Artinya, jarak antara kita menemui satu hape dengan yang lainnya akan semakin singkat.

Katakanlah suatu hari kamu menemui sebuah hape baru yang canggih dan mahal. Dan saat itu kamu masih pelajar atau mahasiswa, yang belum memiliki pekerjaan tetap. Atau bahkan kamu tidak punya pendapatan sama sekali selain dari uang bulanan orang tua. Kamu tidak punya uang untuk membeli hape itu. Kamu sangat ingin memilikinya saat ini juga, tapi tidak siap untuk membayarnya.

Lalu mari beralih peran. Bayangkan kamu adalah pemilik konter, penjual hape tadi. Ketika tahu bahwa penawar hape tadi tidak punya uang, apakah kamu akan memberikan hapemu begitu saja?

Tidak?

Lalu bagaimana bila dia menemukan akun facebookmu, lalu merayumu melalui chat facebook. Apakah kamu mau memberikan hape itu?

Tidak?

Lalu bagaimana bila dia bertindak lebih jauh, dia entah bagaimana menemukan nomer wasapmu atau pin bbmmu. Lalu dia mengajakmu ngobrol panjang lewat aplikasi-aplikasi chating itu, yang pada intinya memintamu untuk memberikan hape itu. Akankah kamu akan memberikannya?

Tidak?

Lalu bagaimana kalau dia mengajakmu dan menraktirmu makan malam, apakah kamu akan luluh lalu memberikan hape itu?

Bagaimana kalau dia berjanji untuk membayarmu di masa depan?

Masih tetap tidak?