Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Belajar Melangkah (Lagi)

Jul 4, 2015

Melangkah adalah kegiatan yang manusia lakukan tanpa berpikir. Maksudnya, kita tidak memikirkan setiap langkah yang kita ambil ketika berjalan ke suatu tempat. Kita tidak menghitung berapa banyak langkah yang harus diambil untuk sampai ke dapur, atau kulkas. Itu tidak kita lakukan lagi ketika kita beranjak dewasa.

Aku ingat waktu kecil suka menghitung berapa petak ubun yang aku lewati, sambil berjalan hati-hati agar tidak menginjak bagian sambungannya. Aku berjingkrak-jingkrak seperti seorang petualang yang melompati sungai yang penuh buaya.

Ada lagi ketika berjalan pulang sekolah, aku sebisa mungkin mencoba hanya menginjak jalan yang dinaungi bayangan pohon, seakan-akan hanya itu tanah aman yang bisa dibuat berpijak. Jadi sepanjang jalan aku banyak berharap agar terus ada bayangan dari pohon-pohon yang tinggi di pinggir jalan. Tentu saja kadang aku melewati daerah yang tidak ada pohonnya, dan kemudian aku menetapkan kalau aku kehilangan satu kesempatan dari sekian kesempatan. Seperti dalam video game.

Dunia anak-anak memang sangat imajinatif, walaupun imajinasinya tidak jauh-jauh dari game yang dia mainkan atau kartun yang dia tonton.

Langit Fajar

Jul 2, 2015

Pertama-tama marilah kita berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan langit fajar kepada hambanya yang tidak tidur lagi selepas sahur.

Konon bila kita ingin belajar ketabahan, kita bisa belajar dari langit fajar. Langit pada jam-jam subuh memberikan warna terbaik, perpindahan dari gelap menuju terang, perpindahan dari dinginnya dini hari menuju hangatnya sinar mentari. Pada saat-saat itu, matahari memberikan semburat sinar oranyenya kepada langit, dan warna abu-abu bercampur biru memberikan kekayaan warna yang hanya bisa dikalahkan oleh kuningnya langit senja.

Tapi senja tidak memberikan udara dan suhu yang segar seperti yang diberikan fajar. Senja tidak memberikan embun kepada tanaman yang selalu menantikannya. Embun memberi mereka harapan untuk hidup pada hari itu setelah sepanjang hari menahan polusi yang disebabkan aktifitas manusia. Langit fajar secara konsisten menurunkan air dari langit dan mengijinkan matahari untuk memberikan sinar pertamanya kepada semesta.

Fisika Cinta

Apr 23, 2015

Alasan kenapa manusia telah lama menyingkirkan kepercayaan mereka pada mata kepala sendiri dan menggunakan mikroskop untuk pengamatan jarak dekat dan teleskop untuk pengamatan jarak jauh adalah selain karena kapasitas indra manusia itu terbatas, juga karena mereka tidak konsisten. Mikroskop dan teleskop akan tetap memberikan gambaran yang sama, sementara pandangan manusia akan selalu berubah dari waktu ke waktu karena banyak faktor.

Lalu bukankah aneh bila seseorang begitu kekeuh dengan pendapatnya sendiri? Sebagaimana indra, pikiran kita akan terus berubah seiring waktu karena apa yang kita dengar, baca, tulis, alami, dan sebagainya. Suatu saat kita mungkin kecewa karena argumen yang dulu kita debat mati-matian ternyata pada akhirnya kita akui kebenarannya. Kalau pergulatannya hanya dengan diri sendiri sih oke, tapi kalau sudah sampai memutus tali persaudaraan maka akan sangat bahaya.

Maka, sebelum mengatakan "aku cinta kamu" atau "aku benci kamu", ingatlah bahwa hati manusia bukanlah jarum jam yang selalu konsisten berputar ke arah yang sama, hati manusia membolak-balik dari kanan ke kiri, kanan ke kiri.

Tentang Keimanan

Mar 14, 2015

Dulu aku pernah juga kepikiran kalau kita menjadi muslim "hanya" karena orang tua kita muslim, kemudian menanyakannya ke seorang ustaz. Beliau menjawab: "Itu pertanyaan yg tidak penting."

Aku kemudian sadar, bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang bukan fokus/prioritas kita dalam beragama, masih banyak (sekali) hal yang harus kita lakukan. Dalam banyak sekali kasus, Tuhan mengawali perintahnya dengan kalimat "Hai orang-orang yg beriman..". Maka benarlah kalau dalam banyak kasus pula, kita memang hanya perlu "percaya". Sesederhana itu.

Namun ternyata iman itu tidak gratis, aku kurang setuju dengan kalimat "Tuhan memberikannya cuma-cuma". Karena nyatanya ada hal besar yg perlu dikorbankan: kemerdekaan berpikir (dalam skala yang sangat-sangat bebas). Para ateis tidak mau menggadaikan kemerdekaan berpikir mereka, itulah mengapa mereka kekeuh dengan pendapat "semua harus logis dan rasional, semua harus bisa dilihat/didengar/disentuh".

Padahal, fitrah manusia itu nisbi. Manusia adalah tentang kebenaran yang relatif. Tidak ada yang mutlak benar, atau mutlak salah. Karenanya, argumen “kebenaran itu relatif” itu tepat bila masih dalam konteks manusia. Bila telah masuk ranah agama, maka argumen itu sudah tidak bisa lagi dikenakan. Argumen itu berubah menjadi: kebenaran itu relatif, kecuali satu. Itulah kalimat yang setiap hari kita rapal dalam duduk tasyahud (seakar dengan kata asyhadu: persaksian): tidak ada kebenaran selain Kebenaran.

Dan tugas kita adalah untuk terus mendekat ke Kebenaran itu. Tuhan sebenarnya lebih dekat dengan kita daripada urat leher kita sendiri, tapi tubuh ini terlalu bodoh dan malas untuk menyadari-Nya.


Sementara, Sudjiwo Tejo mengatakan, "tangga menuju langit adalah kepalamu, maka letakkan kakimu diatas kepalamu. Untuk mencapai Tuhan, injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu"

The Paradox of Leading

Feb 24, 2015

Kita sering mendengar bahwa salah satu golongan yang akan mendapatkan keteduhan Arasy ketika matahari terasa hanya sejengkal di atas kepala adalah: pemimpin yang adil. Malah, kelompok ini disebutkan di nomor satu. Apa yang begitu spesial dari memimpin? Salah satunya adalah situasi paradox yang akan menimpa mereka.

Paradox (atau kondisi yang seolah-olah bertentangan tapi benar, sebagaimana KBBI meletakkannya) dari kepemimpinan adalah bahwa seorang pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang ditunjuk, bukan mencalonkan diri. Hal itu terkait dengan tugas berat pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya dalam masa kepemimpinannya tapi juga dampak yang terjadi paska kepemimpinan, paling tidak dalam tataran tertentu.

Yang menjadi paradox adalah bahwa tanggung jawab sebesar itu harus dilemparkan ke orang lain, sekelompok orang harus menunjuk satu orang. Harus ditunjuk. Plato, dalam frase terkenalnya Philosophers King, mengatakan bahwa sebuah masyarakat akan mendapati situasi ideal bila mau menunjuk seorang filsuf menjadi pemimpin, atau pemimpinnya secara sepenuh hati belajar filosofi.

Itu karena, tidak seperti politisi, filsuf adalah orang terakhir yang mau ditunjuk untuk mendapatkan jabatan kepemimpinan; entah karena pemahamannya akan beban yang menjebak atau karena jabatan akan membatasi ruang gerak pemikirannya. Lagi, ini menjadi paradox karena secara alami orang yang paling pantas untuk dijadikan pemimpin adalah justru orang yang tidak berambisi untuk memimpin!

Bagaimana kita memahami ini? Bahwa paradox kepemimpinan ini berputar: bila orang berilmu takut menjadi pemimpin, lalu kepemimpinan diserahkan pada orang-orang kelas dua, lalu bagaimana kondisi ideal dalam masyarakat bisa tercapai? Familiar sekali bukan? Kapan terakhir kali kita menjumpai orang bijak duduk di pemerintahan? Bagaimana kita akan menyelesaikan masalah seperti ini?

Pemimpin harus ditunjuk, artinya setiap orang memiliki peluang untuk menjadi pemimpin. Dan untuk ditunjuk, seseorang harus memiliki kualitas-kualitas tertentu (katakanlah: siddiq, amanah, tabligh, fatonah). Tapi semakin seseorang belajar, belajar, dan belajar dia secara alami akan menghindari jabatan kepemimpinan dengan meminimalisasi peluang untuk ditunjuk masyarakat.


Nah.

Cogito Ergo Sum

Jan 21, 2015

Descartes’ famous quotation has almost become a cliché: an overused aphorism thrown in wild association at even the word ‘Philosophy’, but it’s beauty lies in its bold simplicity. It is most frequently translated as: “I think, therefore I am”.

The Cogito was Descartes’ ‘Archimedean Point’ in that he hoped it would resolve his own radical scepticism. Descartes had, in his Meditations, argued that even the minutest possibility of an all powerful, manipulating demon meant that we could never really be 100% about anything. This ‘reality’ could, after all, be just a Matrix, a Truman Show, or a Hunter S. Thompson trip.

However, even if everything was a deception, there must be somethingbeing deceived. The very fact that we have doubts, that we canquestion reality, shows there’s something thinking. A demon does not deceive itself, but deceives a thing - this thing, Descartes thought, was the ‘I’.

source: http://mrthinkyt.tumblr.com/post/107782397484/descartes-famous-quotation-has-almost-become-a

Kita ini sebenarnya apa?

“Kita ini sebenarnya apa?” Tanya seorang gadis kepada laki-laki yang sedang menyendok sepotong tiramisu di depannya. Laki-laki itu terdiam, bingung menjawab pertanyaan pasangannya. Sejauh ini, tidak terpikir olehnya bahwa gadis itu akhirnya akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Tidak terpikir olehnya bahwa selama ini hubungan mereka memang tanpa status: Tidak ada visi yang jelas yang mengikat mereka. Mereka memang sering makan bersama, menonton film, atau berkaraoke, tapi apa yang benar-benar mengikat mereka?

Aku menganggap cerita itu sebuah alegori untuk organisasi internal kampus yang pernah kita jalani, sebagian atau semuanya secara tidak sadar bergerak tanpa visi.

Aku menyesalkan bila sebuah organisasi bervisi (apalagi berasaskan Islam) berubah menjadi sekadar Event Organizer (EO), di mana orang-orangnya hanya seperti robot yang bergerak karena “proker harus jalan”. Mereka seperti tidak serius memikirkan esensi dan output dari kegiatan yang kadang menghabiskan banyak uang, tenaga, dan pikiran. Aku akui, itu memang menyenangkan. Periode awal organisasi pikiranku belum sefilosofis itu. Tapi pada akhirnya aku merasa benar-benar ada yang salah.

Aku kemudian ingat sebuah tulisan tentang Sartre. Filsuf Perancis itu berkata, “manusia adalah makhluk yang eksistensinya mendahului esensi”. Aku mulai berpikir kalau mereka, secara tidak sadar, membenarkan argumen Sartre. Sebagian organisasi yang pernah aku ikuti di kampus memang fokus berpikir tentang eksistensi mereka, bagaimana orang luar menganggap mereka “ada kegiatan”. Mereka menjalankan proker dengan alasan sesimpel “periode yang lalu juga menjalankannya”. Persetan dengan esensi dan dasar mereka melakukan sebuah kegiatan.

Aku benar-benar masih ingat, di organisasi internal kampus pertamaku (EDCOM), Edwi Mardiyoko mengatakan kalimat semacam ini ketika kami upgrading: “Kegiatan upgrading ini buat apa? Apa karena hanya ingin melepas proker? Proker lepas, lepas begitu saja?”

Sayangnya waktu itu aku masih terlalu culun untuk menyadari betapa mendesak dan pentingnya pertanyaan Edwi. Sampai akhir masa-masa organisasi pun, tidak ada yang benar-benar bisa kuubah: Kesadaran akan esensi itu hanya menjadi kesadaran naïf—memahami sebuah kesalahan tanpa tahu cara untuk memperbaikinya.

Setidaknya aku sadar akan sesuatu: acara-acara awal seperti upgrading sebenarnya adalah acara yang sangat serius untuk penanaman visi dan misi organisasi. Benar-benar sangat serius.

Kami rapat, menyusun acara seminar, melakukan kunjungan, kemudian rapat lagi—kami bersenang-senang. Namun kami jarang berhenti sejenak untuk jujur bertanya pada diri sendiri: Sebenarnya apa yang kita lakukan? Apa yang sedang kita tuju? Apa yang sebenarnya mengikat kita? Atau bahkan apakah kita memang benar-benar terikat satu sama lain?

Masing-masing dari kami secara tidak sadar bergerak tanpa visi yang sama. Kami menciptakan tembok yang tebal untuk membatasi satu divisi dengan divisi yang lain. Yang sebenarnya, kalau semuanya bergerak dengan tujuan yang sama, akan bisa bersinergi secara luar biasa.

Proker yang ada tahun ini adalah hasil mengopi proker pada periode sebelumnya—dengan sedikit perubahan, tentunya. Kami rapat, menyusun acara diskusi, pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang, untuk kemudian melakukan evaluasi setelah mengulang kesalahan yang dilakukan periode sebelumnya, dan sebelumnya lagi—kami eksis.

Sekarang, untuk setiap orang yang saat ini satu kelompok denganku, ijinkan aku merekonfirmasi: “kita ini sebenarnya apa?” []

Hidup Kita sebagai Manusia

Jan 20, 2015

Tadi malam salah seorang teman perempuan curhat tentang pengeroyokan maling helm di kampus oleh para satpam. Untuk pertama kalinya, dia menyaksikan sendiri apa yang disebutnya sebagai "penyiksaan" itu. Dia shock.

Dia mengakui kalau malingnya memang salah. Dia sempat kabur dan menabrak salah satu satpam sehingga kakinya cedera. Tapi bagaimanapun dia tetap tidak bisa menerima perlakuan satpam-satpam pada maling itu: sudah dimaki-maki, dipukuli, ditendang sampai tersungkur, dan masih ditimpuk pakai batu sampai kepalanya berdarah.

Tidak ada yang melerai (termasuk temanku itu sendiri). Dia mengklaim tidak bisa melakukan apa-apa, yang mana merupakan bagian yang paling menyedihkan dari seluruh kejadian. Bisa dipahami, bukan karena tidak mau, tapi memang belum memiliki "kekuatan" yang cukup untuk mengubah keadaan--entah itu kekuatan jiwa, fisik, atau materi.

Seperti ketika kita ingin membantu gelandangan yang tidur di pinggir jalan, tapi saat itu jalanan ramai dan kita naik motor. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus berlalu karena tidak bisa mengganggu pengguna jalan lain. Atau bisa juga karena kita tidak enak hati kalau dicap sok, baik secara langsung atau tidak. Seperti ketika kita ingin menyampaikan sesuatu di kelas tapi khawatir dicap sok pintar. Hingga kemudian tangan tidak kunjung diangkat dan menyesali kalimat yang tidak tersampaikan ketika kelas usai.

Meratap: seperti ada sebagian hati yang hancur, iya kan? Perasaan yang tidak tersampaikan, entah sebenarnya kita punya kesempatan atau tidak.

But that's life, isn't it? Begitulah hidup. Dunia adalah tempat yang didesain untuk membuat hati kita hancur. (In a slow and fun way, or hard way)

Temanku itupun juga bersedih, karena kalau dia berusaha melerai dengan meminta satpamnya untuk berhenti menyiksa, mungkin dia hanya akan dianggap anak sok tahu yang sedang mencoba jadi pahlawan. Atau yang lebih buruk: dianggap sebagai komplotan pemuda maling tadi. Karena dia juga bilang kalau satpam berteriak-teriak "memanggil" makhluk ghaib yang bernama "komplotan maling" tadi. Itu mungkin yang membuat orang-orang, termasuk para lelaki di sekitar tempat kejadian,  tidak berani berbuat banyak.

It actually happens in almost anything. Dalam masyarakat yang sibuk dan penuh keakuan ini, orang-orang menjadi mati rasa akan ketidak-adilan di sekitarnya. Semuanya dianggap biasa, sehingga orang yang mencoba mengubah "kenyamanan" ketidak-adilan itu yang akan dicap tidak biasa. Too bad disaster news being blew up everyday we are getting so numb.

Kalau kamu melihat film Se7en, kalian akan lebih paham. Untuk mendapatkan perhatian dari manusia, kamu tidak bisa lagi hanya menepuk bahunya, kamu harus menghantamnya dengan palu. Memikirkan diri sendiri adalah sains. Ketika kamu diperkosa atau kemalingan, yang kamu teriakkan bukan "tolong!", tapi "kebakaran!". Tidak ada lagi yang mau merespon "tolong", tapi akan langsung bertindak bila ada yang berteriak "kebakaran".

Tentunya masyarakat tidak selalu seekstrim itu. Tapi itulah yang memang terjadi dengan temanku, kejiwaannya dihantam dengan kejadian itu. (Itulah mungkin kenapa ketika ingin menjadikan seseorang imam shalat, kita "cukup" hanya menepuk bahunya; barangkali kita dilatih untuk tetap sensitif)

Temanku kemudian bertanya; kalau saja ada satu orang saja yang mencoba menghentikannya, mungkinkah malingnya akan merasa lebih dimanusiakan?

Itulah masalahnya, kita tidak akan pernah tahu jawabannya ketika kesempatan untuk mencoba sudah hilang. Coldplay benar, if you never try you'll never know, just what you're worth. Kita tidak akan pernah tahu sebenarnya sebenarapa pantas dan berharganya aksi yang kita lakukan ketika kita membiarkan kesempatan itu melayang. Sementara hidup tidak bisa dibangun dengan kata "seandainya" atau "kalau saja".

Itulah mengapa hati temanku hancur.

Bukankah ada yang lebih menyakitkan dari kegagalan? Yaitu ketika kita bahkan tidak mencoba sama sekali.

Temanku tetap memiliki kesalahan; dia melihat ketidakadilan di depan matanya tapi tidak mencoba menghentikannya. Sementara Rasulullah berpesan agar kita selalu mencoba berbuat sesuatu ketika terjadi ketidakadilan; dengan "tangan" kalau kita punya kekuatan atau otoritas, dengan "mulut" kalau kita punya media (dan, ehem, kita memang punya media: sosial media), atau dengan hati bila kita masih merasa lemah, dan itu memang selemah-lemahnya iman.

Dia mungkin sudah mencoba menghentikan ketidakadilan itu dengan hatinya. Itu terlihat ketika dia mulai mempertanyakan ketidakadilan; "Apa iya harus segitunya menghukum orang agar dia jera?", "Apa sepadan hukumannya dengan harga helm yang cuma berkisar 100-200 ribu?", "Lalu apa kabar para koruptor yang nyolong duit orang senegara?" Betapa adilnya hukum kita.

Haha, dia keliru ketika akhirnya membandingkannya dengan koruptor. "Maling ayam digebukin, koruptor dibebasin" dan semacamnya itu sudah menjadi lagu lama dan diskusi yang mati. Karena memang selalu begitu, hukum manusia memang tidak pernah "sepadan". Terbawa perasaan sampai mengutuk koruptor adalah sebuah klise.

Aku katakan padanya, kalau memandang koruptor, harus sampai pada hukuman Langit. Siksaan di dunia bisa jadi sebagai penghapus dosa; seperti situasi rajam dan potong tangan. Ingat, Malaikat Harut dan Marut saja lebih memilih untuk menerima hukuman di dunia.

Bagaimanapun, pengalaman yang disaksikan temanku itu pantas untuk orang idealis seperti dia, sebagai tambahan bahan bakar untuk tetap setia pada mimpinya: menumpas ketidakadilan.

Seperti lirik John Lennon yang dia kutip tadi malam: “You may say I’m a dreamer. But I’m not the only one. I hope someday you’ll join us. And the world will live as one.”.

Agama VS Sains

Jan 5, 2015

Sampai saat ini, Fullmetal Alchemist: Brotherhood adalah anime terbaik yang pernah kutonton. Selain karena pembahasannya yang luar biasa tentang seven deadly sins, isu yang dibawa juga sangat sensitif: agama vs sains. Penulis manganya pastilah seorang jenius.

Tulisan kali ini tidak akan membahas secara detail tentang plot mengagumkan dari anime tersebut, namun hanya akan menekankan pada diskusi tentang agama vs sains, khususnya dilihat dari sudut pandang Eropa—yang mana merupakan tempat terjadinya revolusi Perancis.

Fullmetal Alchemist memang secara implisit mengambil setting Eropa jaman perang dunia II, bila kita melihat dari ciri-ciri fisik karakter-karakternya seperti rambut pirang, sebutan Fuhrěr untuk pemimpin tertinggi negara sekaligus militer, dan kita juga tidak mungkin memungkiri penggambaran “holocaust” dalam tragedi pembantaian kaum Isbalan.

Namun sebenarnya isu agama vs sains di Eropa sudah berkembang jauh sebelum itu, yaitu pada masa renaissance. The Renaissance atau kelahiran kembali merupakan periode antara abad ke 14 sampai 17 yang dikatakan sebagai jembatan antara masyarakat eropa Abad Pertengahan dan Masyarakat Modern.

Rasulullah (SAW)

Jan 3, 2015

Saya ingin sedikit berbagi mengenai sesuatu, yang tampaknya sederhana, tapi rupanya sangat fundamental dalam Islam. Dalam ayat-ayat awal surat Al Hujurat (49), Allah SWT menjelaskan tentang “tatakrama” terhadap Rasulullah (SAW). Saya menulis ini sebagai bentuk introspeksi. Karena tanpa disadari, saya sering tidak sopan dalam menyebut Rasulullah dalam banyak tulisan.

Bagi yang sering mengikuti tulisan saya, kalian akan menemukan bahwa saya hanya menyebut “Muhammad” untuk mengacu pada Rasulullah, bahkan tanpa menyertakan “nabi” dan “SAW”. Saya pikir dengan begitu saya sedang mendekatkan jarak dengan beliau, seperti layaknya teman. Tentu saja saya memang ingin dekat dengan beliau, namun memang ada kode etis yang saya langgar.

Rasulullah adalah uswatun hasanah, contoh terbaik yang bisa kita berikan ke orang lain. Namun yang kemudian saya sadari adalah: dengan menyebut nama Muhammad di tulisan, saya tidak sedang mempromosikan beliau ke orang lain. Saya tidak sedang memperindah atau memamerkan Rasulullah. Faktanya, nama “Muhammad” itulah yang memperindah tulisan saya.

It's official, I'm dead

Jan 1, 2015

Bagaimana seseorang bisa secara resmi mati? Begini: kamu deaktivasi facebook, twitter; kamu uninstall aplikasi-aplikasi chat di androidmu seperti bbm, whatsapp, line, dan sebagainya. Maka kamu resmi mati. Kamu menghilang dari dunia ini. Dan itulah yang sedang terjadi padaku.

Jaman sekarang melakukan hal seperti itu adalah kegilaan. Mayoritas orang tidak akan mau melakukannya—tabu. Tapi sejak kapan kuantitas orang yang melakukannya menjadi parameter pantas tidaknya sesuatu itu dilakukan? 

Bahkan kadang-kadang, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri tentang suatu hal yang kita melakukannya atau menginginkannya hanya karena banyak orang yang melakukannya. Hal-hal mendasar yang seringkali luput dari perhatian kita karena kita “terlalu keras berusaha mengikuti arus”, seperti masuk kuliah, menjadi PNS, membeli mobil, dan sebagainya.

Kita ini benar atau mayoritas?

Jadi, aku kemudian santai saja untuk melakukan “bunuh diri”. Setidaknya aku mempunyai jawaban ketika seseorang menanyakannya. Bagaimanapun, penerimaan orang terhadap suatu alasan akan beda-beda; bisa dipengaruhi pola pikir yang sama, ketertarikan bacaan yang mirip, atau karena intensitas mengobrol. Artinya; apapun yang kamu katakan, kamu tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kecuali, tentu saja, kalau kamu punya beberapa jawaban untuk beberapa karakter orang.

Rumah Laba-laba

Dec 9, 2014

Tulisan tanggal 16 January 2014

scienceblogs.com

Pagi ini, tilawah saya “melewati” satu ayat dalam surat Al Ankabut yang cukup membekas di ingatan sampai saya memutuskan untuk menulis catatan ini. Surat An Ankabut, yang berarti “Laba-laba” adalah surat ke-29 dalam Kitab Suci Al Qur’an. Ayat yang saya bicarakan adalah ayat ke-41, barangkali ada yang sudah menebak dengan melihat judul catatan. Berikut terjemahan ayat yang saya kopi dari Al Qur’an digital:

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (29: 41)

Nah, mengapa ayat tersebut “menjeda” bacaan tilawah saya? Saya teringat sedikit informasi mengenai ayat ini yang saya dapatkan beberapa hari yang lalu, dan saya ingin membaginya. Ada maksud luar biasa mengapa Dia menganalogikan rumah laba-laba sebagai rumah yang paling lemah. Mari kita lihat sekali lagi kalimat kedua dalam terjemahan ayat tersebut.

“…Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui.”

Mari kita lihat rumah laba-laba, mengapa dikatakan sebagai rumah yang paling lemah?

What's on Your Mind

Dec 7, 2014

Seperti biasa, aku membuka facebook; membuat status yang aneh-aneh, mengomentari status teman dengan komentar yang lucu, sok idealis, bercanda, tertawa sendiri di depan layar, dan kegiatan yang menyenangkan lainnya.

Lalu aku sadar, "Oh, waktu sholat sudah lewat beberapa menit.", lalu bersiap-siap dan bersepeda keluar.

Aku bersepeda dengan hati yang riang, masih terbayang candaan-candaan lucu tadi, dan berencana online lagi habis sholat.

Tiba-tiba aku melihat seorang kakek tua membawa sesuatu (mungkin berjualan) yang sedang istirahat sendiri berteduh di tengah teriknya matahari.

Seketika perasaanku berubah; seperti ada yang menusuk hati ini dengan sesuatu. Seperti ada yang merajam diriku dari dalam. Sakit.

Aku merasa diriku begitu salah; aku merasa duniaku begitu salah. "Dunia ini begitu ironis." "Apa yang telah aku lakukan, menyia-nyiakan nikmat untuk hal-hal yang tidak berguna?" "Apakah selama ini aku hanya bisa berteori saja?"

Aku merasa tulisan-tulisan yang sok idealis di facebook itu menguap begitu saja. Semuanya. Dunia nyata tidak bekerja seperti apa yang aku pikirkan. Berada terlalu lama di facebook membuatku berpikir bahwa dunia begitu indah, dan dunia berakhir dalam layar 11-an inchi ini.

Beberapa kilometer dari kamarku masih banyak orang tua yang meski berjalan berkilo-kilo setiap harinya, atau anak-anak yang meminta-minta di perempatan yang biasa aku hiraukan.

Bermil-mil dari sini dunia tidak seperti ini, orang-orang berada dalam ketakutan, kelaparan karena blokade militer dan serangan bertubi-tubi.

Dunia begitu timpang, dan aku berada di dalam posisi yang begitu nyaman. Dan kalau mau jujur, rasanya begitu menyakitkan. Apakah aku masih manusia? Karena aku bisa makan dengan begitu nyaman.

Pikiran seperti ini tidak hadir sekali dua kali, kadang juga terjadi ketika aku melihat petani, pengemis, atau siapapun yang sedang kepanasan yang tidak tahu bahwa ada orang-orang yang di waktu yang sama sedang terkekeh-kekeh, atau berdebat sesuatu yang tidak penting di depan laptop.

Ini seperti Tuhan memberikan pelajaran yang aku sudah tahu tapi terus Dia ulang-ulang, seperti kalau aku kembali diajari grammar semester satu.

"Oke Tuhan, aku tahu, tidak perlu mengajariku! Aku sudah tahu kalau hidup harus bersyukur!" Aku seakan setengah membentak-Nya seperti kalau teman di organisasi mengatakan hal yang sudah aku tahu (tapi nyatanya tidak aku lakukan). "Aku sudah tahu! Kau kira aku bodoh!"

Tapi nyatanya: apa sebenarnya definisi dari syukur? Aku tidak pernah benar-benar bersyukur.

"Sesungguhnya dalam rejeki yang diberikan kepadamu, ada bagian orang miskin di dalamnya."

Waktu, kesempatan, pengetahuan, kenyamanan, harta, dan semua milik kita yang kita pikir kita mendapatkannya dengan tangan kita sendiri.

Selesai menulis ini; aku tersenyum sinis: "Toh aku akan segera melupakan pikiran ini, nanti malam aku bersenang-senang lagi."

Jadi, Tuhan, silahkan besok-besok ajari aku tentang syukur lagi, kapanpun Engkau berkenan. :)


-hamba yang kurang bersyukur