Tentang Pluralisme

Sep 22, 2015

plu·ra·lis·me n keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya);    -- kebudayaan berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dl suatu masyarakat

Seperti yang termaktub dalam KBBI, pluralisme berarti keberagaman dalam masyarakat, misalnya dalam hal budaya atau agama. Dalam keberagaman, ada satu rumus pokok: setiap kelompok masyarakat memiliki suatu keunikan. Hal tersebut membuat satu kelompok tidak bisa disamakan dengan kelompok yang lain. Karenanya, saya gagal memahami paradigma berpikir mereka: sebagian kelompok (Islam) yang menganggap bahwa semua agama itu sama saja.

Kalau mereka bilang bahwa setiap agama itu pada dasarnya baik, atau paling tidak bertujuan pada kebaikan, saya setuju. Setiap agama memang punya banyak persamaan; tentang Tuhan, tatanan pahala dan dosa, konsep surga dan neraka, dan sebagainya. Tetapi yang perlu diingat adalah: setiap agama itu unik, memiliki nilai universal tersendiri yang diekstrak melalui kitab sucinya, ritual ibadahnya, dan “rasul”-nya. Setiap agama memiliki jalannya masing-masing. Yang jelas, setiap agama itu ada (eksis); Yahudi, Kristiani, bahkan kaum Penyembah Berhala disebut dalam Al Qur’an.

Namun, agar tidak terlampau liberal, saya meyakini hal ini: meskipun punya banyak persamaan, tidak ada agama yang benar-benar sama. Mereka membasuh tangannya sebelum berdoa; saya membasuh tangan sebelum Sholat—namun dilengkapi dengan ritual yang lain yang terdiri dari berkumur sampai membasuh kaki. Itu detail penting, yang kemudian membentuk kesatuan ritual dan memiliki istilah agama khusus: wudhu. Perbedaan (dan pembedaan) dalam ritual agama itu sangatlah penting. Tidak ada yang namanya “hanya detail tambahan belaka”.

Sifat Buruk Bawaan

Aug 15, 2015

Beberapa orang memiliki sifat buruk bawaan yang turun dari orang tuanya, seperti dengki, playboy, sombong, tidak jujur, malas, pemarah, boros, minder dsb. Dan di satu masa dalam hidupnya dia mulai sadar akan hal itu, dan ujian datang silih berganti berkaitan dengan hal itu: pendengki memiliki teman yang (kelihatannya) selalu mendapatkan hal-hal yg juga dia inginkan, pemarah memiliki teman yang menyebalkan, pembohong selalu berada di situasi dimana dia bisa berbohong, dsb. Di saat mereka lagi pengen-pengennya menjadi pribadi yang lebih baik, settingan ujian itu semakin lama semakin berat baginya.

Tapi kemudian dia sadar, bahwa dia sedang bertarung dengan unsur genetik dalam dirinya sendiri, yang mana sangat susah. Inilah kenapa dua orang yang memiliki teman menyebalkan yang sama bisa memberikan respon emosi yg berbeda, karena dia tahu dia memiliki gen pemarah yang selalu harus dia perangi, sementara orang lain tidak. Mudah bagi orang lain untuk sabar, tapi baginya setiap hari adalah pertarungan yang menyakitkan melawan gen sifat buruk dalam dirinya. Orang lain tidak paham pertarungan apa yang terjadi dalam kepalanya, sebagaimana dia tidak paham pertarungan orang lain.

Zona Nol Toleransi

Jul 7, 2015

Kalau kamu meminta nasihat hidup maka jawabanku akan selalu jangan menunda sholat. Bagiku sholat wajib harus selalu ke mesjid. Kalau aku kehilangan satu sholat jamaah maka aku otomatis sedih sampai waktu sholat berikutnya. Aku nggak paham sama konsep menunda sholat jamaah. Ini adalah zona nol toleransi.

Tentang Kapitalisme

Jul 5, 2015

“Mari kita berburu di sana! Jangan ke situ dulu!”

Ketika manusia masih berburu dan meramu, orang yang menguasai persenjataan akan memimpin konstelasi perburuan. Bersama kepala suku, mereka akan mengkoordinasi di mana kelompok yang lain akan berburu. Kelompok yang berhasil menciptakan senjata yang lebih canggih akan memperoleh hasil buruan yang lebih baik.

“Ayo kita serang Anglo-Saxon dulu! Menyerang Viking bisa urusan nanti!”

Ketika manusia beralih dari savagery (berburu dan meramu) menjadi barbarisme, konsepnya masih sama: orang yang berkuasa akan menentukan aktivitas kelompok.  Komandan akan menentukan wilayah mana yang harus dikuasai lebih dahulu.

“Dia berani menghinaku, penggal!”

Dari barbarisme, peradaban manusia berkembang menjadi feudal. Feodalisme, yang kemudian menurunkan sistem aristrokrasi, berpusat pada satu raja. Kekuasaan raja itu mutlak. Perkataannya adalah undang-undang. Raja Louise XIV di Perancis bahkan menciptakan doktrin l’etat ces moi, negara adalah saya. Raja mendapat takhta langsung dari Tuhan. Kalau kamu mengekspresikan perbedaan pendapat dengan Raja Louise, kemungkinan besar kamu akan dikirim ke penjara Bastille. Itu masih lebih beruntung daripada yang langsung dipenggal di guillotine.

Belajar Melangkah (Lagi)

Jul 4, 2015

Melangkah adalah kegiatan yang manusia lakukan tanpa berpikir. Maksudnya, kita tidak memikirkan setiap langkah yang kita ambil ketika berjalan ke suatu tempat. Kita tidak menghitung berapa banyak langkah yang harus diambil untuk sampai ke dapur, atau kulkas. Itu tidak kita lakukan lagi ketika kita beranjak dewasa.

Aku ingat waktu kecil suka menghitung berapa petak ubun yang aku lewati, sambil berjalan hati-hati agar tidak menginjak bagian sambungannya. Aku berjingkrak-jingkrak seperti seorang petualang yang melompati sungai yang penuh buaya.

Ada lagi ketika berjalan pulang sekolah, aku sebisa mungkin mencoba hanya menginjak jalan yang dinaungi bayangan pohon, seakan-akan hanya itu tanah aman yang bisa dibuat berpijak. Jadi sepanjang jalan aku banyak berharap agar terus ada bayangan dari pohon-pohon yang tinggi di pinggir jalan. Tentu saja kadang aku melewati daerah yang tidak ada pohonnya, dan kemudian aku menetapkan kalau aku kehilangan satu kesempatan dari sekian kesempatan. Seperti dalam video game.

Dunia anak-anak memang sangat imajinatif, walaupun imajinasinya tidak jauh-jauh dari game yang dia mainkan atau kartun yang dia tonton.

Langit Fajar

Jul 2, 2015

Pertama-tama marilah kita berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan langit fajar kepada hambanya yang tidak tidur lagi selepas sahur.

Konon bila kita ingin belajar ketabahan, kita bisa belajar dari langit fajar. Langit pada jam-jam subuh memberikan warna terbaik, perpindahan dari gelap menuju terang, perpindahan dari dinginnya dini hari menuju hangatnya sinar mentari. Pada saat-saat itu, matahari memberikan semburat sinar oranyenya kepada langit, dan warna abu-abu bercampur biru memberikan kekayaan warna yang hanya bisa dikalahkan oleh kuningnya langit senja.

Tapi senja tidak memberikan udara dan suhu yang segar seperti yang diberikan fajar. Senja tidak memberikan embun kepada tanaman yang selalu menantikannya. Embun memberi mereka harapan untuk hidup pada hari itu setelah sepanjang hari menahan polusi yang disebabkan aktifitas manusia. Langit fajar secara konsisten menurunkan air dari langit dan mengijinkan matahari untuk memberikan sinar pertamanya kepada semesta.

Apa Ini

Jun 26, 2015

Pada akhirnya aku sampai
pada kesadaran, bahwa jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan berikut:

"Apa itu yang kamu bawa?"
"Siapa itu artis baru yang muncul di televisi?"
"Pertandingan bola mana lagi itu yang lagi tayang?"
"Apa isi video dengan judul menarik di sidebar Youtube ini?"
"Apa berita yang barusan dishare si A ini?"
"Siapa gadis cantik yang barusan lewat tadi?"
"Status apa ini yang dibuat si B di facebook?"
"Foto apa ini yang jadi depe bbm si C?"
"Apasih sosmed yang lagi booming ini?"
"Apa ini?"
"Apa itu?"

adalah sama: distraksi.
Sesuatu yang kadang tidak perlu kau berikan perhatian
yang bisa mengalihkanmu dari tujuan kehidupan: hidupmu.

Fisika Cinta

Apr 23, 2015

Alasan kenapa manusia telah lama menyingkirkan kepercayaan mereka pada mata kepala sendiri dan menggunakan mikroskop untuk pengamatan jarak dekat dan teleskop untuk pengamatan jarak jauh adalah selain karena kapasitas indra manusia itu terbatas, juga karena mereka tidak konsisten. Mikroskop dan teleskop akan tetap memberikan gambaran yang sama, sementara pandangan manusia akan selalu berubah dari waktu ke waktu karena banyak faktor.

Lalu bukankah aneh bila seseorang begitu kekeuh dengan pendapatnya sendiri? Sebagaimana indra, pikiran kita akan terus berubah seiring waktu karena apa yang kita dengar, baca, tulis, alami, dan sebagainya. Suatu saat kita mungkin kecewa karena argumen yang dulu kita debat mati-matian ternyata pada akhirnya kita akui kebenarannya. Kalau pergulatannya hanya dengan diri sendiri sih oke, tapi kalau sudah sampai memutus tali persaudaraan maka akan sangat bahaya.

Maka, sebelum mengatakan "aku cinta kamu" atau "aku benci kamu", ingatlah bahwa hati manusia bukanlah jarum jam yang selalu konsisten berputar ke arah yang sama, hati manusia membolak-balik dari kanan ke kiri, kanan ke kiri.

Es Tut Mir Leid

Mar 31, 2015

Hidup terlalu singkat untuk belajar bahasa Jerman, itulah yang mereka katakan. Saya setuju. Saya merasa sudah terlalu tua untuk belajar banyak bahasa sekaligus. Namun belakangan ada satu frase dalam Deutsch yang menarik perhatian, yaitu ekspresi untuk menyatakan maaf: Es Tut Mir Leid, entahlah bagaimana membacanya.

Yang menarik adalah, terjemahan kata per kata dari Es Tut Mir Leid adalah it does me pain. Kau tahu bila sebuah predikat dalam English didobeli dengando atau does? Artinya si penutur ingin menekankan maksudnya. Bila indra berbahasa kita cukup sensitif, I love you akan terasa berbeda dengan I do love you. Rasanya seperti menambahkan frase “benar-benar” di depan; aku benar-benar mencintaimu.

Sekarang, it does me pain kemudian bisa diartikan “itu benar-benar melukaiku”. Orang Jerman tahu bagaimana cara terbaik mengekspresikan apa yang selama ini kita maksudkan ketika bilang “aku minta maaf”, atau “I apologize”. Ini seperti ketika kamu menyakiti seseorang, ketika orang lain terluka kamu juga menerima luka yang sama.

Saya pun seringkali merasakannya. Ketika saya tahu saya telah menyakiti seseorang, apalagi dia orang baik, malah saya yang lebih sakit hati, I do feel the pain. Kau tahu salah satu dialog yang masih saya ingat di film 12 Years a Slave, yang banyak memperlihatkan bagaimana orang kulit putih sangat suka mencambuk budak mereka? “Tidak satu hari pun ketika aku mencambuk mereka, aku tidak merasakan hatiku tersayat”. Benar, ketika kau menyakiti orang lain, kau juga akan terluka, karena Tuhan Maha Adil. Es Tut Mir Leid

Frase apologi dalam English pun sebenarnya mendekati ungkapan itu. Terjemahan dari I am sorry yang lebih tepat adalah “saya menyesal”. Sorry itu kiranya seakar dengan sorrow (dukacita). Bagi yang masih mengartikannya “maaf” biasa, baiknya mulai sekarang menggantinya dengan itu, dan agak menjeda to be “am”, menjadi I-am-sorry. Kenapa? Agar kata maaf yang keluar dari mulut tidak hanya berupa buah bibir saja. Kita biasa mengucapkannya hanya sebagai formalitas; “sorry ya, aku telat”, lalu besoknya telat lagi.

Kita terlalu sering mengucapkan kata “sorry” tanpa tahu makna yang sebenarnya, kita menjadi tidak sensitif lagi. Kita tidak benar-benar “menyesal” ketika melakukan kesalahan, kita tidak merasakan “luka” lagi. Bagaimanapun, itu bukan sepenuhnya salah kita. Bahasa memang tidak “mengajarkan” kita bahwa permintaan maaf itu didasari empati kita pada luka yang kita torehkan, lalu menyesal. Frase “aku mohon maaf” tidak cukup untuk memadani “Es Tut Mir Leid”.


Filsuf mengatakan kalau manusia adalah “binatang yang berbahasa”. Bahasa mengajari kita jauh lebih banyak dari yang kita kira, yang membedakan kita dengan binatang, yang membuat manusia menjadi manusia. []